Kumpulan Karya Sastra Primanata Dian Isa

Monday, December 24, 2012 - , , , 0 komentar

Puisi cinta-Pasai dalam Nurjanah

"PASAI DALAM NURJANAH"

Pasai apa kabarmu nak
Ampuni salah bapak dan ibu mu
Pasai bapak merindukan mu nak
Bapak ingin bertemu

Pasai bapak telah kehilanganmu nak
Bapak menyesali kejadian itu
Pasai bapak sangat mencintaimu nak
Bapak gagal menjaga mu dan ibu mu

Pasai nanti bapak akan menjenggukmu nak
Bapak akan bawa air dan bunga
Pasai malam ini bapak tak bisa tidur nak
Bapak tak sabar kita berjumpa

Pasai katakan pada ibumu nak
Bapak sangat mencintainya
Pasai mintakan pada tuhan nak
Agar kita bertiga bersatu lagi di sorga



Didedikasikan untuk : S.Pasai & T.Nurjanah


BANJARMASIN,25/12/12
PRIMANATA.D
- , , 0 komentar

Puisi sosial-Reformasi 98


"REFORMASI 98"

Fenomenal aksi di ambang keruntuhan
Di bawah telapak kaki keditaktoran
Suara mu lantang menguncang isi negeri
Kau diburu,dicari,diincar,target operasi

Wahai pemimpin reformasi
Sungguh sakti kau gagah berani
Di hadapan wajah sangar kemiliteran
Kau rubuhkan orde penindasan

Trisakti turut serta dalam aksi
Mereka yang mati adalah pahlawan demokrasi
Masih terekam dalam memori
Ibukota dan kota serta merta unjuk gigi

Sekarang kami leluasa berkata-kata
Kebebasan berbicara adalah hak azazi manusia
Tinggal penyakit-penyakit lama yang masih menggerogoti
Satu persatu mereka tersingkiri

Wahai tuan bersabuk hitam
Nama mu tenggelam


Banjarmasin,24/12/12
PRIMANATA.D
- 0 komentar

Puisi-Untuk hari ibu


"IBU"

Lebur sudah kebekuan ego
Dedas desus kabar anakmu di telinga
Cair sudah endapan kata di jiwa
Lima bait untuk mu bunda

Hari ini adalah hari mu
Tanggal ini adalah tanggal mu
Bulan ini adalah penghujung rindu
Tahun kan berubah dan berlalu

Titian telah kau lalui
Riak jeram kau jumpai
Puntung kayu kau pikul di kepala
Agar dapur mengepul tuk kami semua

Merajang bawang perih kau tahan
Tudung nasi mu ku rindukan
Merajut benang di atas tilam
Kidung merdu mu dalam ingatan

Bunda hari ini untuk mu
Apalah arti kata yang kucipta
Sementara tanggal sudah di beri nama
Ini harimu...
Untuk mu..
bunda



Di request oleh ; Mati Rasa Full
BANJARMASIN,22/12/12
PRIMANATA.D
Saturday, December 22, 2012 - 0 komentar

Puisi cinta-Pacar ku


"PACAR KU"

Pacar ku...
kau muda dan bersemangat
gelagat mu memikat...
hati ku terjerat

Pacar ku...
kau anggun penuh pesona
kau sederhana apa adanya
aku telah mencurahkan rasa
tentang asmara yang lama terpendam di dada

Pacar ku...
tinjulah pembodohan cinta
terjang kemungkarannya
Sibak misteri keindahan
yang belum kita rasakan

Pacar  ku...
kau harus sombong
pada laki-laki yang membujukmu untuk selingkuh
kau harus buta dan tuli
pada hasutan biang permusuhan

Pacar ku...
ku harap kau tulang rusuk ku
kita bagai sepasang lumba-lumba
di luasnya bentang samudera


BANJARMASIN,19/12/2012
PRIMANATA.D
Sunday, December 16, 2012 - , 0 komentar

Puisi sosial-Atap Rumah Bangsa


"ATAP RUMAH BANGSA"

Transistor warna telah memancarkan cahaya
menyinari tabung elektron audiovideo jendela berita
aku melihat atap rumah bangsa
laksana bumbungan atap istana memanggilku ramah

Negeri ini tak berbenteng
tanah tumpah darah republik tercinta
atap rumah bangsa adalah harapan
wadah karya untuk kami anak jalanan

Senda gurau muda-mudi pinggiran
tentang hayal cita dan angan
atap rumah bangsa impian nyata
bawalah kami menembus cakrawala

Kepada mu tuan dan puan pimpinan
orang yang penuh kebijaksanaan
di baris puisi hasil guratan mata pena
adalah aksara sampah maya

Sabda ku dibawah atap rumah bangsa
bersama berkarya
bawa dan rangkul mereka


BANJARMASIN,16/12/12
PRIMANATA.D
- , 0 komentar

Puisi sosial-Dayung papan kayu


"Dayung Papan Kayu"

Ini sampan ku
Berdayung papan kayu
Ku tawar kau ikut serta
Bersama arungi kehidupan dunia

Sejenak hendak naik perahu
Fikir mu menimbang ragu
Tanda tanya dalam dada
Jika badai datang menerpa

Kau lontar tanya pada daratan
Apa kita akan menemukan pulau impian...?
Aku diam perahu bisu
Bibirku lembab lidahku kaku

Kau berfikir tentang tak mampu
Pasrah malu mencumbu ku
Kau bertanya tentang nyali
Tatap ku tajam tantang lazuardi

Kau tak bernyali
Aku pergi sendiri


BANJARMASIN,16/12/12
PRIMANATA.D
Friday, December 14, 2012 - 0 komentar

Carpen nasehat-Darmanto si senja abadi


Darmanto si senja abadi

Nama ku Nata,24 tahun.Sudah hampir 2 minggu aku dan papa di kota seribu sungai ini.Berawal dari kota hiu dan buaya,papa mengajak ku melihat kampung halamannya di Banjarmasin.Seminggu yang lalu aku mendapat kabar jika teman lama ku yang bisnisnya di bidang advertising juga sedang di Banjarmasin,ia mengabarkan keberadaannya di kota ini untuk mencari order,dan merangkul calon client barunya untuk bisnis yang sedang di jalankannya.Mendengar kabar baik itu sang sahabat pun mengajak ku untuk bergabung dengannya,membantunya dalam proses diplomasi antara perusahaan yang ia miliki dan calon client yang sedang di cari.Pekerjaan ini gampang sekali,tugasku hanya membuat janji pertemuan antara para owner perusahaan dan marketing  sebagai eksekutor dilapangan,karena sebelumnya aku ahli dalam menjalin kerjasama,sehingga aku memanfaatkan kesempatan ini.Hmm…lumayan buat nambah uang jajan,..

Sejak seminggu yang lalu aku memulai pekerjaan ini,untuk dapat melakukan pekerjaan ini aku harus mengikuti aturan main.
Ada peran yang harus dan sangat harus di mainkan,sebagaimana seorang pemilik usaha,atau owner,atau biasa kita sebut Big Boss yang mengharuskan ku untuk mengikuti system kerja mereka.Aturan mainnya adalah tidak perlu masuk kerja jam 8 pagi,dan bergaul dengan para Manager atau tangan kanan si big boss.he,he,he…pekerjaan ini adalah pekerjaan yang ku idam-idamkan sejak aku TK dulu…xixixi…

Tepat jam 8 pagi papa selalu membangunkan ku,dan aku juga selalu bilang ke papa ;”sekarang jam berapa pa..?”
Papa menjawab; “Sudah jam 8,bangunlah,mandi dan sarapan..”.Kemudian dengan berat aku menjawab; “Ahgt..nanti pah setengah jam lagi,bos juga belum datang ke kantornya koq…”.Kemudian aku kembali terlelap,sayup sayup ku dengar nasehat papa ;”Seorang lelaki itu harus bekerja keras,untuk itu jangan malas bangun pagi”.kemudian telingaku kembali tuli,aku menikmati hangatnya guling dalam dekapanku.

Lagi-lagi papa membangunkan ku dengan suaranya yang merayu merdu;”Bangunlah,sudah jam 9 ini…kapan lagi,nanti hujan lagi,cepatlah mandi…nanti kalo sudah mandi tidur lagi g’ apa-apa…”
He,he,he…Papa memang paling pinter membunjuk,setiap kali aku mendengar papa membangunkan tidurku,seketika itu juga aku teringat seseorang yang membangunkan setiap pagi ku setahun yang lalu.Aku tak bisa membantah,aku beranjak dari kasur ku,membuka pintu kamar dan bergegas mandi n g’ lupa gosok gigi.xixixi

Seperti biasa,aku menggunakan jeans ?Guess berwarna putih,dan baju kemeja putih.Jam tangan bekas yang ku beli dari pasar pagi Jodoh Batam Merk SUTUVANG, yang setelah ku cari informasinya di Mbah Google adalah jam tangan proyek pembangunan kilang minyak di laut Vietnam dan tidak di produksi untuk umum,ku dapatkan dengan harga 100ribu.SUTUVANG adalah bahasa Vietnam yang berarti SINGA PUTIH.Gatsby Musky Spalsh Cologne sebagai pengganti parfum,maklum bau ketek ku terkenal sangat jantan..xixixi..Sejenak aku berdiri di depan kaca yang bertubuh lemari sembari ku pakai jaket kulit hitam yang ku beli di alun-alun Pekalongan 3 tahun yang lalu.Tas paha Eiger yang sangat ku cintai selalu mengiringi kemana ku pergi kini sudah di pinggangku,terakhir ku putar lagu DRAGON FORCE yang berjudul;” TRAIL OF BROKEN HEARTS”,tentunya dengan headset stereo yang menempel di kedua telingaku dan full volume di hape GSTAR yang ku miliki.Sempurna…Rasanya aku seperti berada di kaki gunung Semeru dan siap untuk menakhlukan setiap rintangan yang akan kutemui dalam mendaki puncaknya.

“Pa….pergi dulu…”
“G’ sarapan..?
“G’…”ntar gampang itu…”
Sepatu CAT coklatku sudah menunggu di teras,si CAT sangat nyaman ku pakai,serba guna,di atas motor keren,jalan kaki mentereng…wkwkwk…Hmm karena di Banjarmasin baru beberapa hari,tentunya aku tak punya kendaraan,soo…aku harus berjalan kaki kira-kira 4 Km jauhnya dari rumah yang ku tinggali menuju markas besar sang sahabat.Setiap pagi aku melintasi sungai RK Ilir Banjarmasin menuju jalan MT.Haryono,demikian juga sore harinya.Ada sesuatu yang membuatku memilih untuk berjalan kaki ketimbang minjem motor sepupu yang nganggur di depan rumah,pertama adalah ku fikir ini olah raga,dan kedua adalah ketika pulang kerja aku selalu menikmati sang senja yang tenggelam persis di Barat jembatan,sinar jingganya membuat kilau di riak sungai,sesekali melintas sampan-sampan kecil dengan dayung kayu yang di kemudikan oleh seseorang bertopi seperti pendekar cina.Semuanya nyata,indah, dan sempurna.

HARI PERTAMA
Aku pulang lebih awal,pukul 4 sore aku sudah meninggalkan markas,menyusuri jalan menuju jembatan yang biasa ku sebrangi.Musik Mp3 masih ku nikmati,dari perempatan lampu merah pangkal jembatan terlihat pemuda-pemuda yang memacu sepeda motornya dengan kecepatan tinggi,mereka kejar-kejaran satu sama lain,entah apa yang mereka dapatkan dari kebut-kebutan itu.Tak lama muda-mudi yang menikmati petang di atas jembatanpun bertepuk tangan dan bersorak sorai,ku toleh ke belakang,teryata sang pembalap jalanan sudah mencium mesra aspal hitam…Hmm..mungkin itu yang mereka cari,dan 1 diantara si jago sudah mendapantkanya “selamat”.Gumam ku dalam hati…

Aku berjalan di trotoar jembatan,tapi setiap kali aku memegang pipa-pipa besi itu ada hal yang membuat ku terpaksa berjalan melepaskan peganganku dari pipa besi dan membuatku berjalan sedikit ke tepi aspal.Adalah sosok Pak tua,ia menggunakan kaca mata coklat,bertopi,jenggotnya putih,rambutnya putih.Pak tua itu juga menggunakan jaket kulit hitam dan sepatu kulit coklat yang warnanya sama denga si CAT ku,di sampingnya adalah sepeda CINA berwarna merah yang rangkanya berbentuk bulan sabit tidur.Pak tua menikmati petang dengan duduk santai memborong trotoar jalan,tak ada satu pun yang berani mengganggunya,aku melihatnya bagai seorang pejuang jaman Belanda yang mungkin mengenang kisahnya di sungai Martapura.Memang kata papa dulu di bawah jembatan samping rumah yang sekarang ku tinggali adalah markas besar pejuang jaman Jepang dan Belanda.

HARI KEDUA
Aku pulang jam 5 sore,seperti biasa kebut-kebutan motor sepertinya rutin di adakan di jembatan yang ku lewati,penontonnya kali ini g Cuma anak muda,tapi juga orang tua,anak-anak,dan balita…waah..mengerikan sekali..
Pak tua kulihat lagi di tongkrongannya sendiri,tanpa teman,sahabat,tanpa anak,tanpa cucu.
Aku berlalu,tapi hati ku penuh tanda tanya.

HARI KE TIGA
Aku pulang sang surya bulat merah besar,pesonanya memukau setiap orang yang melintasi jembatan itu.Aku pun menyempatkan diri sejenak untuk membakar surya 16 di sela jari ku,tak berapa lama bola api raksasa itu berat bawah dan tenggelam.Ku lihat tongkrongan pak tua,pak tua masih santai menikmati sisa mega-mega jingga di ufuk barat.Aku berlalu.

HARI KE EMPAT
Aku pulang selepas magrib,gerimis mengundang di pangkal jembatan,terlihat oleh ku pak tua menggayuh sepedanya meninggalkan tongkrongannya.Aku mempercepat langkah kaki ku.

HARI KE LIMA
Langit cerah,petang yang indah.Aku melihat pak tua menikmati setiap hisapan rokoknya,kali ini aku menganggukan kepala ku,mengisyaratkan permisi,sembari tersenyum kepadanya.Pak tua pun melakukan hal yang sama,ia mengganggukan kepalanya sebagai tanda mempersilahkan aku tuk melintas.Sepertinya pak tua sudah mulai mengenaliku.

HARI KE ENAM
Kali ini aku pulang pukul 7 malam,sesekali kurasakan rintik hujan di pipi ku,tapi aku menikmatinya.Di pangkal jembatan kulihat pak tua bersandar,ia masih di sana,entah apa yang di tunggunya.Ini sudah hampir jam 8 malam,kali ini tanpa rokok di jarinya,tanpa langit cerah,mendung semakin meraja,sepeda merah masih setia di sampingnya.Langkah ku kian dekat,semakin dekat hingga aku memberanikan diri untuk menyapa dan duduk di sampingnya,seperti biasa jurus perkenalan yang ku mainkan di jalanan adalah mananyakan korek api untuk membakar rokok ku.

“Aduuuh,cape pak jalan kaki…boleh pak numpang duduk..?”
“ooh ya boleh..boleh..”Yang ku dengar dialeknya Jawa,bukan Banjar.
“Pak punya korek g’…?ini pak rokok..mari pak kita nikmati”.
Pak tua menyambut baik,”Ya ada,ini…”..segera aku membakar rokok ku,dan kami berdua menikmati hisapan ke dua,ke tiga secara bersama-sama.

“Setiap kali saya lewat di jembatan ini,saya selalu melihat bapak duduk disini,apa ada kenangan indah di jembatan ini pak..?”
Aku meluapkan pertanyaan yang ku simpan semenjak hari kedua aku melihat pak tua.Kemudian aku memperkenalkan diri,tentu saja beliau juga menyebutkan namanya; saya “DARMANTO”.

“Yah..”. Pak tua mengela nafas,sepertinya ia menguatkan hatinya.
“Ketika itu saya kaya,saya memiliki istri dan 1 anak perempuan,saya memiliki sedan berwarna putih,dan kamu tau..?”
Jika di dalam sedan itu minimal saya membawa uang 75 juta”…Dulu Banjarmasin masih hutan,saya memiliki 3 rumah di Kauman,dan dulu saya juga membangunkan jembatan untuk akses jalan ke salah satu sekolah.Di sana yang dulu masih di penuhi rawa,saya mengerjakannya tanpa meminta imbalan,karna ketika itu saya memiliki 2 truck pengangangkut tanah,dan saya memang bertekad untuk membuat akses jalan menuju sekolah itu agar anak-anak sekolah bisa dengan senang pergi ke sekolah.

“Saya sudah hampir 15 tahun menikmati petang duduk disini,terkadang ada juga orang yang mau ngajak ngobrol tapi saya g mau,malah saya usir…”
Ha,ha,ha…”Kok saya g di usir pak’’..?
“Kamu sering saya lihat lewat jalan kaki,jadi g saya usir”’….Pak tua tertawa,kami pun mulai akrab,Aku pun bertanya usia pak tua,pak tua kembali meneruskan ceritanya.

‘’Usia saya sudah 73,Istri saya sudah meninggal,anak saya juga sudah menikah,saya memiliki 5 cucu.
Saat itu anak saya minta di belikan rumah,saya langsung memenuhi keinginannya untuk memiliki rumah,ia bilang kepingin di Perumnas,yang rumahnya rapi-rapi,yang bayarnya nyicil.Padahal saya bilang bayar cash aja,tapi anak saya bilang lebih enak klo nyicil”.

Aku pun berfikir..hmm..mungkin tu uang cash yang dikasih bapak di puter buat usaha ma anaknya,aku pun angguk,angguk,iya,iya..

“Kemudian saya menikah lagi,istri saya yang satu ini juga minta di belikan rumah,saya pun membelikan rumah buat istri saya,waktu itu saya sempet binggung…”
Pak tua sejenak berhenti bercerita,aku pun langsung menjawab; “Bingung cari uangnya pak ya..?”.he,he
“Bukan masalah uang…kalo uang saya banyak,habis uang saya 700 juta…700 juta…,Ketika itu saya sibuk dengan bisnis.Waktu lah yang menjadi permasalannya”.

“Saya tidak tahu iblis apa yang merasuki tubuh anak dan istri saya,setelah apa yang sudah saya berikan kepada mereka,mereka lupa kepada saya.Anak saya satu-satunya perempuan sama perilakunya dengan suaminya,mereka mengusir saya dari rumah yang sudah saya belikan buat mereka.Kemudian istri saya itu,nakal..suka menghabis-habiskan uang,semuanya habis saya tidak punya apa-apa lagi.Saya sempat mau lompat jembatan,tapi beruntung ada orang yang menyadarkan saya dan menasehati saya,saya sadar bunuh diri tidak menyelesaikan masalah.Semenjak saat itu saya anggap semua ini angin lalu.”

“Dulu saya tidur di langgar,setiap hari ada-ada saja orang yang kasih duit,padahal saya bukan peminta-minta,saya hanya numpang tidur di langgar karna saya bingung mau pulang kemana.Kampung halaman saya di Surabaya,anak dari saudara-saudara saya tidak tau kondisi saya,karna saya tidak mau kasih tau,dan saya tidak mau membebani mereka,mereka suruh saya pulang ke Surabaya,tapi saya tidak mau,saya menjaga Aib ini,Sekarang saya sewa rumah,sebulannya 275rb di sana…”
Pak tua menunjuk jarinya kearah biasa matahari tenggelam.

“Kalo langit cerah,saya suka tidur di depan kantor walikota,tapi sudah sebulan ini hujan,jadi saya terpaksa pulang ke rumah kontrakan,biar kehidupan saya seperti ini saya tetap punya uang,saya g pernah kehabisan uang,tuhan maha adil,ia melihat saya seperti ini.Tetangga samping kontrakan saya juga banyak orang susah,terkadang klo saya dapat rejeki saya selalu membawakan makanan buat mereka,mereka disana janda dengan anak-anaknya,entah suaminya kemana saya tidak tahu.
Kemaren saya beli duren,saya tidak tega jika tetangga hanya mencium baunya dari rumah saya,untuk itu tetangga sebelah-sebelah rumah harus ikut serta mencicipi duren yang saya bawa.Saya akan sangat malu jika saya tidak berbagi,g mungkin jika mereka hanya menikmati baunya saja kan…?”..

Aku tertegun mendengar cerita pak tua,di balik cerita pak tua ku dapatkan hikmah yang dapat ku jadikan pelajaran hidup,seperti detik jam dinding yang berjalan pada posisi tidak tetap,kadang di atas dan kadang di bawah,adalah roda yang tak pernah berhenti berputar,sebagaimana harta itu bukanlah kunci utama kebahagiaan,namun keluargalah harta yang paling berharga.Pak tua berkata; “Saya sudah mencicipi kaya,saya pun sudah mencicipi miskin,tapi saya tidak mencicipi kebahagiaan”.

Tak terasa malam semakin larut,gerimis segan membasahi daratan,2,3 muda mudi berpacaran mulai meninggalkan jembatan.Rokok ketiga kembali ku bakar,asap kental membelah berkas cahaya lampu motor yang menyala dari ujung lampu merah.”Ya sudah besok klo mau ngobrol ,kita bisa lanjutkan di sini lagi,hari sudah malam kita harus pulang,karna gerimis kan datang”.

Kembali ku jabat tangan pak tua,harapanku esok dan lusa dapat berbincang lagi dengannya.Jembatan lurus dua jalur,ku ibaratkan teras pelepas gundah pak tua,matahari di ufuk barat sudah lama tenggelam,tapi di usia senja pak tua sinarnya tetap abadi.Kesabaran dan ketabahan adalah kunci utama dalam menikmati kehidupan,demikian pula dengan ujian tuhan yang membuat kita menemukan makna dan hikmah dari setiap kesalahan yang pernah di lakukan.

Salam penulis.
PRIMANATA.D




Thursday, December 13, 2012 - 0 komentar

Puisi cinta-Kunang-kunang


"KUNANG-KUNANG"

Mengundang kehadiran ku
Beranda tak bertuan,tak jua berpintu
Kunang-kunang di depan mata
Ku terpaku melihat parasnya

Menarik kala di pandang
Menggoda jemari tuk menari
Kau ku beri nama kunang-kunang
Rasa hati hendak mengiringi

Kunang-kunang sinar memancar
Satu di antara seribu lampu bohlam
Kelap-kelip terangi gelap pudar
Malam-malam ku hitam kelam

Kunang-kunang dirimu indah
Selaksa lentera kau terangi mata
Ada seribu sepertimu
Telah ku temukan salah satu itu



BANJARMASIN,13/12/12
PRIMANATA.D
Wednesday, December 12, 2012 - 0 komentar

Puisi sosial-Lalat hijau


"LALAT HIJAU"

Kala fatamorgana di ujung mata
Kerak kering di sela bibir
Pelatuk baja masih setengah
Mata pemburu resah menyisir

Kepulan asap hitam mengejar awan
Kalajengking gurun hilang sembunyi
Topi kura-kura datang melawan
Usai tak usai kedua marasai

Capung-capung di perbatasan
Nada-nada pekak bising
Perut senapan tak berhenti makan
Ibu anak kurus kering

Lalat hijau pergilah kau..!
Baret hijau sudah di bahu mu
Katakan kepada pemimpin kalian...!
Kirimkan bantuan makanan

Agar tiada kelaparan..
Dan kesengsaraan
Ini sudah usai...
Bangkai terbengkalai


BANJARMASIN,12/12/12
PRIMANATA.D
Friday, December 7, 2012 - , 0 komentar

Puisi sosial-Elang-elang muda

"ELANG - ELANG MUDA"

Pinggiran jalanan kota
Tepian wara-wiri roda
Kuku-kuku kecil runcing
Bersanding di perang tanding

Dekapan pohon cendana
Halau tatapan mata surya
Sayapnya kibas mengepak
Bertarung di langit gagak

Elang elang muda penjelajah
Langit-langit khatulistiwa
Dadanya tak berbulu putih
Lehernya tak berdasi

Negri ini ganas semakin panas
Rantai makanan tak jelas
Elang-elang muda berburu mangsa
Kota jadi rimba,tikus jadi raja


BANJARMASIN,06/12/12
PRIMANATA.D
Wednesday, December 5, 2012 - , 0 komentar

Puisi ibu-Langit-langit kamar

"LANGIT-LANGIT KAMAR"

Beribu-ribu garis marka di tengah aspal hitam,
telah ku lewati satu per satu
Berkilo-kilo nisan tanda di pinggir jalan,
menggiringku ke tanah rantauan

; "Aku telah jauh..."

.................................................................
Dalam renung bersandar kasur tak berkaki
Ku pandangi langit-langit kamar yang setia menemani
Sudut-sudutnya,garis-garisnya,dan pijar lampu yang menyinari
Seakan berbicara menyabarkan hati

Seringkali hati ini sendu kala malam menjelma
Lamunan mengirimku terbang ke muka pintu rumah
Di sana ada tawa dan canda keluarga
Ada ciuman dan pelukan handai taulan tercinta

Langit-langit kamar masih setia menemani
Mengajak ku mengenang awal keberangkatanKu
Kala lambayan tangan semakin jauh ku tinggalkan
Hati ku terenyuh pilu...
Batin ini teramat nyilu...

Dalam renung bersandar kasur tak berkaki
Aku menghitung waktu hari ke hari
Sungguh telah lama nian...
Ku tak pulang ke kampung halaman

Di setiap malam kau ku rindukan
Belaian jemari tua yang tak lagi muda
Ibu...kita terpisah jarak dan waktu
Disini aku sangat merindukan mu

Langit-langit kamar ku pandangi
Ibu...wajah mu kian menghantui


BANJARMASIN,4/12/12
PRIMANATA.D
Sunday, December 2, 2012 - 0 komentar

Puisi sosial-Sang naga


"SANG NAGA"

Aku cahaya lentera pada kegelapan
Dian yang tak pernah padam
Menerangi jalan yang berliku
Setia di setiap langkah mu
Aku bersinar terang

Aku kertas petunjuk arah
Peta pedoman langkah
Membimbingmu dengan bijaksana
Menjadi panutan pada ke arifan
Aku adalah kebenaran

Aku sahabat jendral perang
Busur dengan mata panah berapi
Membidik tameng-tameng menghadang
Pada kecepatan yang tak tertandingi
Aku di takuti

Aku bermahkota,berhati mulia
Istana ku adalah penjara
Memberi adalah nasi ku
Menerima bagi ku debu
Aku di cintai

Aku badai gurun sahara
Aku letusan gunung berapi
Aku tsunami samudera hindia
Marahku adalah bencana bagi mu

Aku logam mulia
Aku kayu pepohonan
Aku tanah menyuburkan
Aku mencintai kedamaian dan ketenangan

"Aku lah Sang Naga"
Penguasa dua belas shio yang ada


Didedikasikan untuk para sahabat yang bershio Naga.
tahun 1964,1976,1988 - februari 1989,2012

PRIMANATA.D
- 0 komentar

Cerpen nasehat-Roti pisang keju

"ROTI PISANG KEJU"

Ketika itu seorang pemuda yang bekerja sebagai sales pulang dari luar kota untuk menemui kekasihnya yang sudah 6 bulan tidak bertemu,segera saja sang pacar mengajak untuk melepas kerinduan dengan menikmati makan malam pada sebuah cafe anak muda yang ramai di malam minggu.
"Yank...cafe ini biasa tempat aku bersama teman-teman nyantai kalo lagi suntuk..''..menu di sini lezat-lezat.."ucap sang gadis saat motor bebek berbadan usang yang di tunggangi mereka memasuki gerbang cafe berwarna putih biru.

Tak lama kemudian bebek itu pun di parkirkannya di antara ninja,dan satria-satria tangguh yang berbaris rapi,sejenak sang pemuda mengelus dada membandingkan dengan apa yang ia miliki.Huuft..."kapan ya aku bisa punya kaya gini"..ia bertanya-tanya dalam hati,namun secepat kilat hatinya menjawab.."Aku harus memperjuangkannya sendiri"..,Sembari melepas helm bututnya,pemuda itu melempar pandangan pada sisi gerbang cafe,tepat di bawah pagar pembatas cafe dan trotoar jalan duduklah seorang janda tua dengan 3 anaknya yang dekil beralas karung putih menatap kosong cawan plastik merah berisi lembaran kertas hijau dan logam logam rupiah.

"Yuk yank masuk...rame banget,cepet kita cari tempat"..Sang gadis menarik lengan pemuda,segera saja dua sejoli itu mencari meja dan kursi kosong di dalam cafe.Sang pemuda melihat sekeliling cafe,apa yang direkam pada mata tajamnya adalah ramai pemuda-pemudi kota dengan kehidupan yang sombong dan glamor."..Waah...ini tempatnya anak-anak orang kaya ya dik..?"..semua muda-mudi disini pembicaraanya tinggi semua..".pemuda itu pun membuka pembicaraan di meja cafe sembari menatap mata kekasihnya dengan penuh kerinduan.

Tak lama kemudian,menu pesanan tersaji di hadapan mereka,dua porsi kue tart pisang,dengan irisan potongan keju serta coklat cair dan susu putih kental tersaji sangat lezat.Keduanya menikmati santai sajian itu dengan gaya kebarat-baratan,karena mengikuti cara orang-orang di sekitar mereka.”Pisau di kiri dan garpu di kanan”….Oh begitu ya”..gumam hati pemuda,namun sang pemuda risih dengan hal demikian,ia meletakan pisau dan garpunya lalu meminta pelayan untuk mengambilkan sendok makan.Setelah ia mendapatinya pemuda itupun dengan tenang menaikan kaki kanannya di kursi,lalu mulai menikmati irisan setiap potong kuenya.Sementara beberapa pasang mata melirik ke arah mereka,mata-mata lemah yang tertuju pada sang pemuda seakan berkata.."dasar wong deso".

"Maaf dek kakak lebih suka begini maklum biasa di warteg".Sambil tersenyum memandangi paras kekasihnya yang cantik dan manis itu,sang pemuda seakan mencairkan suasana yang beku,kekasihnya hanya tersenyum mahal,seakan berat bibirnya untuk menampakan giginya yang putih rapi itu.Sekali lagi pemuda mengeluskan dadanya,"Mungkin aku tak bisa seperti mereka,pendidikan yang kudapatkan sangatlah jauh berbeda"...gumamaan hatinya mengiringi kunyahan kue yang perlahan masuk di mulut,menembus tenggorokan,lalu jatuh menyusuri usus-usus kebalnya.Pada potongan kue terakhir pemuda itu menatap keluar jendela,diantara lalu lalang muda mudi itu seorang bocah kecil menarik ekor-ekor belalang yang siap meluncur mengelilingi gemerlap kota dan dinginnya malam, diperhatikannya si bocah dengan lincah menyambar gumpalan-gumpalan kertas dari tangan-tangan halus tanpa cela.

"Aku sekarang tulang punggung keluarga,maaf kalo kakak terlalu lama pergi meninggalkan mu,kakak harap kamu bisa mengerti ya dik..”.Senyum lugu sang pemuda tercurah tulus dan manis,matanya memancarkan kepribadian yang bijaksana dan dewasa,tuturnya rapi tanpa ragu,sang kekasih pun menatap mata pemuda dengan rasa yang dalam,gadis muda berusia 21 tahun itu seakan ingin berkata jujur jika ia sudah memiliki laki-laki lain semenjak 4 bulan yang lalu.Hal itu di karenakan ia butuh seseorang yang dekat yang mampu menjadi tempat bersandar setiap waktu,namun ia tak mampu untuk mengatakannya,lidahnya kelu,hatinya mengunci semua kata,matanya terpaku pada garpu yang di putar-putar di kedua jarinya, ia berusaha untuk memperpanjang umur hubungan dengan pemuda yang sangat di cintainya selama 4 tahun yang saat ini ada di sampingnya.Ia tak bisa membohongi hati kecilnya,ia tahu persis jika pemuda itu adalah sosok laki-laki baik dan setia yang selalu ia tunggu kepulangannya dari luar kota selama 4 tahun berpacaran.Gadis itu menahan kata-katanya,ia berharap ada kekuatan besar yang mengukuhkan cintanya pada pemuda itu.Ia berdoa dalam hatinya agar tuhan menunjukan seorang pemimpin yang mampu membimbing jalan hidupnya dengan arif dan bijaksana untuk masa depannya.

“A’…Bungkus yang seperti ini satu ya”…suara lantang sang pemuda memecahkan lamunan gadis itu,..”Buat apa kak..?,hmm..enak ya..hee,he..”,Sang kekasih pun tersenyum lepas,giginya terlihat seperti susunan jagung muda,bibirnya tersungging manis merekah bagai buah delima terbelah.”Kau begitu indah…aku berjanji akan menjaga mu dengan segenap jiwa”…untaian kata-kata seakan mengalir tenang pada mata pemuda itu,sinar matanya melawan partikel-partikel cahaya lampu sorot café yang berpijar silau menusuk retina,namun tak mampu menghalangi tatapan matanya pada ke dua bola mata indah gadis yang sangat ia cinta.

Seaorang pelayan cafe dengan seragam putih dan garis-garis biru di lengan bajunya mendekati pemuda itu,seraya memberikan bungkusan kue tart pisang keju dan coklat yang sudah rapi terbungkus pada kotak kue didalam plastik putih,pelayan café itu memberikan secarik kertas untuk pembayaran.Pemuda dan kekasihnya berdiri serentak kemudian berjalan bersama menuju kasir yang tak jauh dari meja mereka,pemuda itu mengeluarkan dompet kulit berwarna coklat tua,sisi-sisi dompet itu jahitannya sudah terlepas,sehingga jika di isi uang koin sudah pasti uang koin itu akan lolos melalui celah yang sudah menganga.Ia menarik selembar biru yang masih terlihat baru,kemudian dengan ramah ia berpamitan kepada penjaga kasir yang berjam-jam menebar senyum di mata pengunjung yang datang.
”Terimakasih ya teh,.mari A’..permisi..".Senyum pemuda itu seakan memacu semangat semua karyawan café untuk mempertahankan senyum ramah mereka kepada pengunjung.

Langkah sepasang kekasih itu seirama,sang gadis memegang jemari pemuda menyusuri susunan kursi dan meja menuju pintu keluar café,mereka adalah pasangan yang serasi,sudah sepatutnya pemuda yang ramah tamah itu mendapati gadis muda,cantik jelita dan pandai menjaga perasaan lawan jenisnya.Kemandirian,kedewasaan,tampan,berani,serta pandai bertutur kata telah memikat hati sang gadis pada pemuda berusia 23 tahun yang sudah dikenalnya cukup lama itu.

Kini mereka berdua sudah di lapangan parkir café,sementara sang gadis masih menuntun pemuda itu kearah tempat mereka memarkirkan motor yang sudah berpindah tempat,namun seketika pemuda itu menarik tangan sang gadis menuju pintu gerbang café,..”Dik kita kesana dulu yuk’’.Pemuda itu mengajak sang gadis untuk mengikuti langkah kakinya,”Kemana lagi kak..?”..”Sst..dah ikut aja…yuuk..”..pemuda itu tersenyum menatap kekasihnya lalu sekejap mengarahkan kepalanya pada seoarang janda tua dan 3 orang anaknya yang menahan dinginnya malam kota Bandung di trotoar gerbang café.

“Ibu… ini untuk ibu dan anak-anak…mungkin ibu sudah mencicipi medapati uang,tapi ini makanan di dalam café sangat lezat sekali rasanya,mungkin juga ibu belum pernah mencicipinya,ini bu…silahkan di buka dan di cicipi..”.

Janda tua dan ketiga anaknya terperangah melihat dan mendengar kata-kata pemuda itu,mereka menopang dagunya keatas membenarkan jika selama ini mereka duduk disana hanya mendapati uang dari pemberian pengunjung café yang lalu lalang keluar masuk gedung berkaca bening tembus pandang dengan susunan meja dan kursi yang rapi.Sementara sang gadis menatap sang pemuda dengan mata berkaca-kaca,ia tidak menyangka jika ketika menikmati kue lezat di dalam café tadi sang kekasihnya itu juga memikirkan perut-perut kosong yang duduk beralaskan karung putih yang saat ini ada di hadapannya.

Gadis itu mendekat dan memeluk kekasihnya ,ia bersyukur kepada tuhan yang telah memberikan jawaban atas pertanyaanya,ia bersyukur dan sangat-sangat menyukuri jika ia telah di bukakan mata hati tentang sebuah ke muliaan.
Dan terakhir ia memeluk erat sang pemuda dengan segenap jiwa,menyesali atas apa yang telah ia perbuat,kemudian berbisik syahdu ; “Ya tuhan,jangan pisahkan aku dari orang ini”..

Oleh; Primanata.D,
Saturday, December 1, 2012 - 0 komentar

Puisi ketenangan jiwa-Darmaga ketenangan


"DARMAGA KETENANGAN"

Berlalulah sebuah ketidakpastian
Setelah borgol besi mengunci tangan
Serta babak belur di sekujur badan
Mengurung ku di keranda pikiran

Majas ironi kini terpatri
Menjadi sindiran halus yang menjadi-jadi
Bagai nota-nota tagihan menumpuk tinggi
Membuat resah hati mencari solusi

Aku merasa terjajah dan di jajah
Pada kepungan segudang masalah
Dan belengu-belengu berbaju jubah
Memaksa ku menghindar dari benih-benih fitnah
Strategiku ingin merdeka

Tak patut jadi ratapan
Tapak ku maju kedepan
Sejenak ku lupakan tikaman ancaman
Merenungkan arti kebebasan
Pada darmaga ketenangan

Oh tuhan..
; "Tabahkan"



Banjarmasin,01/12/12
PRIMANATA.D

Followers

Ikuti saya di Google +