Kumpulan Karya Sastra Primanata Dian Isa

Showing posts with label Puisi tanah air. Show all posts
Showing posts with label Puisi tanah air. Show all posts
Thursday, December 4, 2025 - , , , 0 komentar

Tesso Nilo puisi

TESSO NILO

Ingin kau sebut dia apa ?

Tesso Nilo yang dulu riuh kicau kucica hutan.

Sahutan siamang menggema di setiap lereng bukit.

Dan anak gajah yang bergelut riang di bentang savana.


Tesso Nilo dengan jubah berat di lantai berhumus

Kian tandus oleh akar - akar sawit yang rakus

Kotornya ketamakan, mengalir serupa warna sungai Indragiri.

Kini ? Ingin kau sebut dia apa?


Primanata D.I

Bengkulu, 05 Des 2025

Monday, October 12, 2015 - 0 komentar

Puisi hari sumpah pemuda - Gerimis Oktober

"Gerimis Oktober"
Air mata itu gerimis,
ia menangis sejak senja kehilangan jingga
Siluet itu awan kelabu,
ia berteriak,dan teriaknya adalah gemuruh guruh
Ciumlah tanah sekarat di bumi ini wahai hujan,
dari matamu yang merah di langit
Dan dari setiap butir air mata itu,
adalah berkah yang tak pernah ku duga
Air mata oktober menghapus debu,
tumbuhkan seribu jenis rumput
Seribu rupa perdu liar,
serta ribuan ilalang kan tinggi menjulang
Memang... tapi kurasa beda,
sebab aku kehilangan sawah
kebun tebu,dan semua palawija,
Bahkan emas harta simpanan ibu pertiwi
Menangislah oktober...
kita kenang kisah usang para pemuda dengan sumpahnya
Yang berjanji bertanah air satu,
tanah air indonesia
12 Oktober 2013
Oleh : Primanata D.
Friday, October 9, 2015 - , , , 0 komentar

Puisi untuk Jambi

Jambi pada Oktober2015
Kami adalah perisai di langit Jambi
Menolak burung-burung raksasa menyentuh bumi Batanghari
Kami adalah ibunya Kelambu 
Yang diakui oleh api dan abu
Kami terperangkap dan terjebak
Tersesat diantara nafas manusia yang sesak
Kami adalah korban pemerkosaan
Dari mereka penguasa lahan
Kami kabarkan mereka yang bebal
Dengan muka yang makin tebal
Entah apa mereka sudah buta?
Menilai bumi tua masih balita ?
Kami kunjungi langit ketujuh
Memohon agar rintik air jatuh
Dan kepada angin musim kedua kami berpinta
Jauhkanlah Jambi dari air mata
Wahai Kumolonimbus !
Murkalah di tubuh kami yang menghangus !
Jambi.08/10/2015
@Primanata D.
Monday, October 5, 2015 - , , , 0 komentar

Puisi di musim kemarau 2015

LUMUT DALAM GENTONG
"Kapan kami dikeluarkan ?"
"Disini begitu panas"
"Ini seperti di Alcatraz tuan"
"Kapan kami dapat bebas ?"
"Disini begitu hampa"
"Ini adalah Bangker anti rudal tuan"
"Kapan kami dapat dengar lagi?"
"Bayolan para kodok"
"Hentakan kaki hujan"
"Cekikikan daun dan ranting"
"Gelak angin"
"Riuh guntur"
"Dan kilat yang sibuk memotret-motret bumi"
"Kapan tuan ?"
"Kapan?"
"Kapan kami dapat dengar lagi?"
"Sawah tergenang,sungai meluap"
"Jalan menyungai,sungai menyeringai"
"Dan kalimat dari tuan" :
"BOR..."
"Kapan kami dapat dengar lagi?"
"Ilalang menari,bunga liar bersemi"
"Belukar dan burung-burung bernyanyi"
"Hujan kalahkan api"
"Kapan kami dapat dengar lagi?"
"Tinggi air di waduk meningkat"
"Pintu air dibuka"
"Atau"
"Eksploitasi batu dan pasir"
"Penebangan hutan lindung"
"Kapan kami dapat dengar lagi..."
"Desing jetpump dan kejaran buih"
Bengkulu,06/10/15
@Primanata D.
Saturday, September 19, 2015 - , , 0 komentar

DAMAI

" DAMAI"
Mungkin ada,
di dalam bening bulir embun
Mungkin ada,
Di hujung ribuan pucuk-pucuk ilalang
Mungkin ada,
Di sayupnya kicauan burung nun jauh di sana
Mungkin ada,
Di pangkal air terjun yang menjadikan buih putih
Mungkin ada,
Di riak-riak jernihnya air sungai yang tertawa
Mungkin ada,
Di pada waktu rembulan begitu kuning tua
Dan malam dengan segala suara,
seekor pungguk jua
Mungkin ada,
kedamaian yang kasat terlihat
@Primanata D.

TANJUNG PINANG

Hanja kepalamoe sadja jang nampak
Bak bidadari jang menjemboel dari teloek
Namoen hanja kepala sadja
Dikau Tandjoeng Pinang, itoelah dikau
Trikora jang mengoendang datang
Lagoi bersoeara, Bintan memboedjoek
Akoe masih terdoedoek
Hilang sajap, hilang sayap wahai raja
Esuk koe andoen Poelau Penjengat
Soedjoetkoe tanda ingat
Tandjoeng Pinang
Kota 1000 pantun
@Primanata D..
Thursday, May 28, 2015 - , , 0 komentar

Puisiku berjudul HAGH...

"HAGH"
Hagh...
untuk yang kutulis
mau kuhadiahi buat siapa?
atau kutitipkan saja
atau kulempar saja
Hagh...
menyedihkan sekali aku ini
mempecundangi diri sendiri
Hagh...
buku-buku itu pohon yang dikuliti
aku tak tega ikut menguliti
bumi ini sudah keriput tua
memang..
tulisanku masih kencang dan muda
Hagh...
buat siapa tulisan ini
mau diapakan
dipampang di toko buku berkelas?
atau sekedar dokumentasi berdebu tuk anak cucu?
Hagh...
buntu pula kantongku
bapakku bukan pengusaha kaya
makku ibu rumah tangga
mau kulempar kemana tulisanku ini
Hagh...
gila juga lama-lama
Hagh...
aku menyindir
mereka tak tersindir
padahal majas-majasku jelas
Hagh...
mereka cuma baca koran
buku buku berkelas
impor
soal bisnis
trik
dan intrik
Hagh...
sudahlah..
@Primanata D.
Bengkulu.28/05/2015
Sunday, April 19, 2015 - , , , 0 komentar

POTRET INDONESIA 2014

Di bawah tanah ada minyak
Tungkuku puntung kayu
Di bukit ada emas
Berasku berkutu-kutu
Di sungai ada pasir
Lantaiku tanah merah
Di gunung banyak batu
Rumahku berkaki bambu
Dan telaga-telaga jernih
Jauh memusuhi
Manakala hujan tak tandang
Ladangku kering kerontang
Lalu sapi-sapi busung lapar
Kambing-kambing ceking
Di tudung sayurku
Tiwul...
@Primanata D.
Potret Tanah Tumpah Darah
Saturday, October 18, 2014 - , 0 komentar

GERWANI pada puisi


"GERWANI 1965"

Seroepa bangoenan toea empat lima
Koesam moeka berdiri lama
Tiada poen nampak rapoeh
Meski tetangga bertanding tanggoeh
Itoelah sebagaimana koe gambarkan
GERWANI ditelan zaman
Masih hidoep lagi tak redoep 

Mengoengkap tjeritra lama
Jang penoeh fitnah belaka
Kami bertanja-tanja pada kulit boekoe
Apa sejarah dibawah langit kami palsoe?!


@Primanata D.

Puisi Pahlawan

"TA' IBA"
Adalah di seboeah negeri,
negeri jang ta' mandja namanja,
meski iboenya dihoedjam dera,
dia ta' djoea iba.
Poejang-poejangnja mati
di barisan boekit-boekit
dengan telandjang kaki dada.
Poejang-poejangnja tenggelam
di laoet-laoet
dengan kulit hitam legam.
Poejang-poejangnja jang masih hidup
mati !
di atas tanah koeboeran berongkos.
@Primanata D.
Sunday, October 5, 2014 - , , 0 komentar

Generasi garuda dalam puisi

Garuda yang terkapar
Yang terkapar itu,
Seekor garuda
Yang terpapar darinya,
:''kemiskinan''
Yang bersandar adalah ketamakan,
: "birokrat"
Dan yang terakhir adalah ketimpangan,
: "sosial...


Maka kami yang bodoh ini
Tidur ditumpukan jerami
Lalu membakar diri


Anak-anak kami sebagian enggan,
Enggan pintar
Sebab otaknya sudah dijejali,
duit bapak
Anak-anak kami sebagian enggan sekolah,
Sebab di kepalanya bertanya-tanya,
Bapak ibuku
Kemana?


Yang lain menggendong koran,
memikul karung,
Batu,
Dan menggeruk pasir
Maka garuda,
terkapar digilas roda zaman
Sayup dalam erangan.

@primanata d.

Penyair tanah air

Aku patah,
pada puisi-puisiku
Aku mati kering,
pada syair-syairku
Aku tumbang,
pada sajak-sajakku
Itu kelak,
Jika bumi sudah muak
Kutitip puisi,
di keremangan malam
beratap ribuan gemerlap bintang
tanda aku ingat
Kuselip syair-syair,
di lengkung pelangi
cakrawala nusa
tanda aku cinta
Kusimpan sajak-sajakku,
di setiap butiran hujan
tanda aku perduli


@primanata d.
- , , 0 komentar

Korupsi dalam puisi

Nasehat tikus jantan

Wahai anak pertamaku !
Biar bapak tiup dahimu itu
Agar kelak seusia bapak
Kamu jadi jaksa
Kenyang makan suap...


Wahai anak keduaku!
Biar bapak tiup ubun kepalamu itu
Agar kelak diusia emak
Kamu jadi kepala kantor pajak
Kenyang makan duit rakyat...

Wuahai anakku paling bontot
Sini bapak tiup dua telingamu itu
Sebuah mantra sakti
Ketika palu berbunyi tiga kali
Kau akan tetap tersenyum
Bahagia..

Wahai anakku yang paling bontot...!
Apa nama dan warna partaimu kelak ?
Ingat !
Jangan tanggung-tanggung
Sebab hukum,
bukan hukum pancung

@primanata d.
- , , 0 komentar

Arti fanatisme dalam puisi

"Fanatisme"

Bilamana engkau tak berkibar benderaku...
Akupun serupa bunga layu kering
Tanpa angin,
Tanpa hujan

Dan separuh langit urung gelap
Aku mati terkulai terbengkalai
Dan panji-panji penuh warna
Terpancang tanpa makna


Wohoy mereka bersiteru !
Mereka gaduh !
Mereka selaksa burung kenari
Bertarung kicau tak berisi


Siapkan saja tuan
Nasi bungkus air putih
Sebelum aku mati terkulai
Dan kau biarkan
Aku membangkai.


@primanata d.

Wajah Sumatera dalam puisi

"ALS"

Akoe diserang sekoempoelan deboe
Jang melontjat lintjah menjerboe
Di djalanan lintas soematra
Jang tak ter-oeroes roepa


Bisik-bisik Kerintji Seblat
Belantara dibabat
Amoek-amoek ombak laoet
Tepian tebing sakit akoet

Andalas kian panas
Seroepa minjak goreng panas
Terbakar atau dibakar
Boenga sawit kian mekar

Akoe diterdjang deboe koening
Jang melompati bangkai kering
Dari djalanan lintas soematra
Jang tak ter-oeroes roepa

Bengkulu 2014
@Primanata d
Monday, December 23, 2013 - , , , 0 komentar

Pesta rakyat-sajak sosial politik

"Pesta rakjat"

Baroe sadja...
Asap-asap mendjalar mengedjar langit
Meninggalkan tjomberan darah segar
Di oedjoeng laras bedil raktjat

Baroe sadja poela
Soeasana mendjadi angker
Di kolong djembatan
Di pinggiran kali metropolitan
Serangan-serangan fadjar kapitalis
Menjisakan sedjoeta isak tangis

Dan baroe sadja...
Politikoes-politikoes menyerboe ganas
Dengan pandji-pandji emas
Memboenoeh dengan mariam berpeloeroe djandi-djanji

Baroe sadja poela
Akoe melihat kamoe menantang malam
Berselendang bendera partai
Melawan dingin kedjam
Dan suara merdekapoen gegap gempita !
Seroean pertempoeran menjeroeak
Dari moeloet-moeloet pendjoeak

Catatan :
penjuak : penghasut

@primanata d.
Monday, December 9, 2013 - , 0 komentar

Sajak memperingati hari bumi 22 april-nyanyian anak negeri

Bukit mengerang

Bencana
Malapetaka
Pohon pohon tumbang
Bukit menjerit mengerang
Telanjang

Bencana
Malapetaka
Burung burung terbang
Babi babi menyerang
Kera kera bersarang
Di ladang

Bencana
Malapetaka

O mengapa harus alam
menjadi korban kesejahteraan
Kemakmuran yang merata
sulit dicapai
Sebab nafsu
buru membadai

O rumahmu berdiri pilar pilar
Dari akar akar pohon menjuntai
Siamang siamang teriak lantang
Yow !!!
Tebang dan bantai !

Burung burung terbang
Babi babi menyerang
Kera kera bersarang
Di ladang

Pohon pohon tumbang
Bukit menjerit mengerang
Telanjang

Pohon pohon tumbang
Bukit menjerit mengerang
Jadi tambang

Cord ; Am
F G Am
F C G Am

Lyric by ; @primanata
- , 0 komentar

Sajak memperingati hari bumi 22 april

"Aku dan Gunung"

Dedaunan merebah mendesah basah
Yang tenang melayang kemudian mendarat bertingkat-tingkat rapat
Menumpuk hingga lapuk membusuk
Di tanah-tanah miring yang tak pernah kering
Lembab mengendap
Di beku dingin hangat menguap

Langkahku karam
Di humus kakiku tenggelam
Tebing-tebing liat menyekat hebat
Nafasku sesak memberat

Aku sudah setinggi awan
Didorong para kabut yang terus berkejaran
Di punggungnya angin menghempas anak-anak hujan
Dingin semakin dingin
Sendi-sendiku ngilu
Jemari kaku membatu
Aku mati lesu

Aku dipangku randu yang membisu
Akar-akar rotan bersedu sedan
Keduanya berkata terbata-bata ;

"Apakah kau manusia?"
"Mereka menyayatku dengan sebilah belati tajam"
Lihatlah tubuhku penuh luka"
"Aku tak kenal mereka"
"Mereka menulis nama dan tanda"

"Apakah kau manusia"?
"Yang akan melakukan hal serupa"
Lihat bungkusan plastik di tangan kananmu"
"Dan gabus lisong di sela jarimu"
"Aku tanpa jubah duri"
"Akankah kau campakkan keduanya di rongga-rongga dadaku ini"

Duka terasa pengap
diperangkap kabut yang kembali merayap
Derak derak ranting patah gundah gulana
Remuk tak berupa diatas noda dan luka

Ujung api di ibu jari dan telunjuk
Kutebar abu dengan khusyuk
Pedih perih menusuk
Kala sekumpulan kecici hadir membesuk

Angin berarak membuka selimut mega-mega
Biru sudah wajah cakrawala
Sang surya mendekap embun
Kemudian menjadikannya butiran intan yang berkilauan

Kini sudah di hidungnya yang mancung
Aku terpesona mendengar kicau kutilang gunung
Yang bersenandung seusai mendung berkabung

Disemak-semak batang kayu abadi dan celah cadas ku hela nafas bebas
Pandanganku menerapas pada bukit-bukit tak berparas
Separuh tubuhnya hancur
Perutnya terburai lebur
Dan segala isinya diperebutkan
Oleh keserakahan dan kesewenangan

Batu gajah meringkuk malu
Setangkai edelweiss jatuh berderai
Patah terkulai
Keduanya bertanya ;

"Apakah kau manusia?"
Mereka menikamku dengan belati tajam"
Memberinya gincu kemerahan"
"Yang tak jua luntur di basuh hujan"

"Apakah kau manusia?"
Lihat kami yang mekar"
"Kau hitung pun tak sukar"

Aku lipat-lipat yang kulihat
Kulekat dalam ingat
Mungkin Tuhan beri rahmat
Bukakan mata yang tertutup rapat

Sepi kian mencekam
Dalam hening kupatri diam
Aku ingin berkaca pada kubangan hujan
Dari semua perlakuan
Yang hanya menambah penderitaan

Selusin batu gajah mengelinding
Aku hancur selaksa pecahan beling
Tangan-tangan batu dilereng curam berusaha meraih teriakku yang semakin tenggelam
Asap-asap belerang semakin garang
Jerit sakit kencang mengerang

Aku hilang suara,hilang bayangan
Di dunia pewayangan yang kusebut khayangan

Bengkulu,30/11/13
Primanata.D
Saturday, September 21, 2013 - , , 0 komentar

Sajak di pemerintahan

"PEMBUNUHAN KARAKTER"

Bagaimana aku bisa menelanjangimu?
Sedang di kiri kananmu binatang buas
Bagaimana aku bisa mencabik-cabik manis mulutmu?
Sementara mata-matamu mengantongi butiran timah
Aku diam di balik tirai emosi
Memilih bicara atau
mati !

@primanata
Saturday, July 20, 2013 - , 0 komentar

Puisi untuk kota Baturaja Sumsel-Gadis Oku

"GADIS OKU"

Bunga-bunga "Baturaja"
Putih,semerbak wangi
Membuai empat penjuru pandang mataku
Pada derai panjang rambut lurus gadis OKU

Sungai Ogan !
Mengapa kau tak kunjung jernih ?
Lenggang Komering !
Kau jua tak pernah kering ?
Aku di keruh riaknya
Menepi di pinggiran kota :Baturaja

Baturaja,21/07/2013
Primanata Dian Isa

Followers