Kumpulan Karya Sastra Primanata Dian Isa

Showing posts with label Puisi untuk Banjarmasin. Show all posts
Showing posts with label Puisi untuk Banjarmasin. Show all posts

Penyair tanah air

Aku patah,
pada puisi-puisiku
Aku mati kering,
pada syair-syairku
Aku tumbang,
pada sajak-sajakku
Itu kelak,
Jika bumi sudah muak
Kutitip puisi,
di keremangan malam
beratap ribuan gemerlap bintang
tanda aku ingat
Kuselip syair-syair,
di lengkung pelangi
cakrawala nusa
tanda aku cinta
Kusimpan sajak-sajakku,
di setiap butiran hujan
tanda aku perduli


@primanata d.
Thursday, March 14, 2013 - , 0 komentar

Sajak sosial-Penjaga malam Kalimantan selatan

Sajak Penjaga malam Kalimantan selatan

Lagi pukulan dentang tiang listrik berbunyi
penjaga masih waspada
di bawah rembulan berselimut awan
di atas tanah berawal rawa
di bukit harta karun
di kapal-kapal tongkang
tuyul-tuyul bersiul
bandit-bandit besar di kursi VIP
membelai rambut pirang perempuan
dan pulang dengan simpanan

Lagi pukulan dentang tiang listrik berbunyi
penjaga masih waspada
di kaki kaki bukit
di hulu-hulu sungai
di riak sungai barito
tuyul-tuyul bersiul
bandit-bandit perutnya buncit
menguntit batu bara
uangnya entah kemana

Lagi pukulan dentang tiang listrik berbunyi
penjaga masih waspada
cacing di perutnya berontak
segumpal problema menunggu fajar
istri pergi ke pasar
dan berkeluh
; harga sembako melunjak
bawang merah,bawang putih
tak mampu dibeli...

Tuyul-tuyul bersiul
bandit-bandit matanya tambah sipit
menguliti perut rimba
tongkang-tongkang liar
uangnya entah kemana


Banjarmasin,15/03/2013
Primanata Dian Isa
Thursday, November 29, 2012 - 0 komentar

Balada-pak tua dari negeri rawa

“PAK TUA DARI NEGERI RAWA”

Matanya lembut seperti mata balita
Bibirnya manis semanis kenangan lama
Pinggiran sungai martapura
Banjarmasin negeri rawa
Pak tua melepas tawa

Buku lisan memaparkan kejadian
Mengajak ku kembali ke tahun empat puluhan
Tanah kelahiran di tinggalkan
Mencari masa depan di perantauan

Pak tua dari negeri rawa
Memandang Borneo dari mega-mega
Dahulu hijau rimba
Kini kuning terlihat tanah

Pak tua telah kembali
Pada usia senja yang tak muda lagi
Lima puluh tahun tiang-tiang rumah menanti

Di pandanginya setiap sisi
Matanya lembut seperti mata balita
Bibirnya manis semanis kenangan lama
Pingggiran sungai martapura
Sebelum gudang lima
Pak tua mengenang kisah


My father,good father
BANJARMASIN,30/11/12
PRIMANATA.D

Followers