Ketika itu seorang pemuda yang bekerja sebagai sales pulang dari luar
kota untuk menemui kekasihnya yang sudah 6 bulan tidak bertemu,segera
saja sang pacar mengajak untuk melepas kerinduan dengan menikmati makan malam pada sebuah cafe anak muda yang ramai di malam minggu.
"Yank...cafe ini biasa tempat aku bersama teman-teman nyantai kalo lagi
suntuk..''..menu di sini lezat-lezat.."ucap sang gadis saat motor bebek
berbadan usang yang di tunggangi mereka memasuki gerbang cafe berwarna
putih biru.
Tak lama kemudian bebek itu pun di parkirkannya di
antara ninja,dan satria-satria tangguh yang berbaris rapi,sejenak sang
pemuda mengelus dada membandingkan dengan apa yang ia
miliki.Huuft..."kapan ya aku bisa punya kaya gini"..ia bertanya-tanya
dalam hati,namun secepat kilat hatinya menjawab.."Aku harus
memperjuangkannya sendiri"..,Sembari melepas helm bututnya,pemuda itu
melempar pandangan pada sisi gerbang cafe,tepat di bawah pagar pembatas
cafe dan trotoar jalan duduklah seorang janda tua dengan 3 anaknya yang
dekil beralas karung putih menatap kosong cawan plastik merah berisi
lembaran kertas hijau dan logam logam rupiah.
"Yuk yank
masuk...rame banget,cepet kita cari tempat"..Sang gadis menarik lengan
pemuda,segera saja dua sejoli itu mencari meja dan kursi kosong di dalam
cafe.Sang pemuda melihat sekeliling cafe,apa yang direkam pada mata
tajamnya adalah ramai pemuda-pemudi kota dengan kehidupan yang sombong
dan glamor."..Waah...ini tempatnya anak-anak orang kaya ya
dik..?"..semua muda-mudi disini pembicaraanya tinggi semua..".pemuda itu
pun membuka pembicaraan di meja cafe sembari menatap mata kekasihnya
dengan penuh kerinduan.
Tak lama kemudian,menu pesanan tersaji
di hadapan mereka,dua porsi kue tart pisang,dengan irisan potongan keju
serta coklat cair dan susu putih kental tersaji sangat lezat.Keduanya
menikmati santai sajian itu dengan gaya kebarat-baratan,karena mengikuti
cara orang-orang di sekitar mereka.”Pisau di kiri dan garpu di
kanan”….Oh begitu ya”..gumam hati pemuda,namun sang pemuda risih dengan
hal demikian,ia meletakan pisau dan garpunya lalu meminta pelayan untuk
mengambilkan sendok makan.Setelah ia mendapatinya pemuda itupun dengan
tenang menaikan kaki kanannya di kursi,lalu mulai menikmati irisan
setiap potong kuenya.Sementara beberapa pasang mata melirik ke arah
mereka,mata-mata lemah yang tertuju pada sang pemuda seakan
berkata.."dasar wong deso".
"Maaf dek kakak lebih suka begini
maklum biasa di warteg".Sambil tersenyum memandangi paras kekasihnya
yang cantik dan manis itu,sang pemuda seakan mencairkan suasana yang
beku,kekasihnya hanya tersenyum mahal,seakan berat bibirnya untuk
menampakan giginya yang putih rapi itu.Sekali lagi pemuda mengeluskan
dadanya,"Mungkin aku tak bisa seperti mereka,pendidikan yang kudapatkan
sangatlah jauh berbeda"...gumamaan hatinya mengiringi kunyahan kue yang
perlahan masuk di mulut,menembus tenggorokan,lalu jatuh menyusuri
usus-usus kebalnya.Pada potongan kue terakhir pemuda itu menatap keluar
jendela,diantara lalu lalang muda mudi itu seorang bocah kecil menarik
ekor-ekor belalang yang siap meluncur mengelilingi gemerlap kota dan
dinginnya malam, diperhatikannya si bocah dengan lincah menyambar
gumpalan-gumpalan kertas dari tangan-tangan halus tanpa cela.
"Aku sekarang tulang punggung keluarga,maaf kalo kakak terlalu lama
pergi meninggalkan mu,kakak harap kamu bisa mengerti ya dik..”.Senyum
lugu sang pemuda tercurah tulus dan manis,matanya memancarkan
kepribadian yang bijaksana dan dewasa,tuturnya rapi tanpa ragu,sang
kekasih pun menatap mata pemuda dengan rasa yang dalam,gadis muda
berusia 21 tahun itu seakan ingin berkata jujur jika ia sudah memiliki
laki-laki lain semenjak 4 bulan yang lalu.Hal itu di karenakan ia butuh
seseorang yang dekat yang mampu menjadi tempat bersandar setiap
waktu,namun ia tak mampu untuk mengatakannya,lidahnya kelu,hatinya
mengunci semua kata,matanya terpaku pada garpu yang di putar-putar di
kedua jarinya, ia berusaha untuk memperpanjang umur hubungan dengan
pemuda yang sangat di cintainya selama 4 tahun yang saat ini ada di
sampingnya.Ia tak bisa membohongi hati kecilnya,ia tahu persis jika
pemuda itu adalah sosok laki-laki baik dan setia yang selalu ia tunggu
kepulangannya dari luar kota selama 4 tahun berpacaran.Gadis itu menahan
kata-katanya,ia berharap ada kekuatan besar yang mengukuhkan cintanya
pada pemuda itu.Ia berdoa dalam hatinya agar tuhan menunjukan seorang
pemimpin yang mampu membimbing jalan hidupnya dengan arif dan bijaksana
untuk masa depannya.
“A’…Bungkus yang seperti ini satu
ya”…suara lantang sang pemuda memecahkan lamunan gadis itu,..”Buat apa
kak..?,hmm..enak ya..hee,he..”,Sang kekasih pun tersenyum lepas,giginya
terlihat seperti susunan jagung muda,bibirnya tersungging manis merekah
bagai buah delima terbelah.”Kau begitu indah…aku berjanji akan menjaga
mu dengan segenap jiwa”…untaian kata-kata seakan mengalir tenang pada
mata pemuda itu,sinar matanya melawan partikel-partikel cahaya lampu
sorot café yang berpijar silau menusuk retina,namun tak mampu
menghalangi tatapan matanya pada ke dua bola mata indah gadis yang
sangat ia cinta.
Seaorang pelayan cafe dengan seragam putih dan
garis-garis biru di lengan bajunya mendekati pemuda itu,seraya
memberikan bungkusan kue tart pisang keju dan coklat yang sudah rapi
terbungkus pada kotak kue didalam plastik putih,pelayan café itu
memberikan secarik kertas untuk pembayaran.Pemuda dan kekasihnya berdiri
serentak kemudian berjalan bersama menuju kasir yang tak jauh dari meja
mereka,pemuda itu mengeluarkan dompet kulit berwarna coklat
tua,sisi-sisi dompet itu jahitannya sudah terlepas,sehingga jika di isi
uang koin sudah pasti uang koin itu akan lolos melalui celah yang sudah
menganga.Ia menarik selembar biru yang masih terlihat baru,kemudian
dengan ramah ia berpamitan kepada penjaga kasir yang berjam-jam menebar
senyum di mata pengunjung yang datang.
”Terimakasih ya teh,.mari
A’..permisi..".Senyum pemuda itu seakan memacu semangat semua karyawan
café untuk mempertahankan senyum ramah mereka kepada pengunjung.
Langkah sepasang kekasih itu seirama,sang gadis memegang jemari pemuda
menyusuri susunan kursi dan meja menuju pintu keluar café,mereka adalah
pasangan yang serasi,sudah sepatutnya pemuda yang ramah tamah itu
mendapati gadis muda,cantik jelita dan pandai menjaga perasaan lawan
jenisnya.Kemandirian,kedewasaan,tampan,berani,serta pandai bertutur kata
telah memikat hati sang gadis pada pemuda berusia 23 tahun yang sudah
dikenalnya cukup lama itu.
Kini mereka berdua sudah di lapangan
parkir café,sementara sang gadis masih menuntun pemuda itu kearah
tempat mereka memarkirkan motor yang sudah berpindah tempat,namun
seketika pemuda itu menarik tangan sang gadis menuju pintu gerbang
café,..”Dik kita kesana dulu yuk’’.Pemuda itu mengajak sang gadis untuk
mengikuti langkah kakinya,”Kemana lagi kak..?”..”Sst..dah ikut
aja…yuuk..”..pemuda itu tersenyum menatap kekasihnya lalu sekejap
mengarahkan kepalanya pada seoarang janda tua dan 3 orang anaknya yang
menahan dinginnya malam kota Bandung di trotoar gerbang café.
“Ibu… ini untuk ibu dan anak-anak…mungkin ibu sudah mencicipi medapati
uang,tapi ini makanan di dalam café sangat lezat sekali rasanya,mungkin
juga ibu belum pernah mencicipinya,ini bu…silahkan di buka dan di
cicipi..”.
Janda tua dan ketiga anaknya terperangah melihat dan
mendengar kata-kata pemuda itu,mereka menopang dagunya keatas
membenarkan jika selama ini mereka duduk disana hanya mendapati uang
dari pemberian pengunjung café yang lalu lalang keluar masuk gedung
berkaca bening tembus pandang dengan susunan meja dan kursi yang
rapi.Sementara sang gadis menatap sang pemuda dengan mata
berkaca-kaca,ia tidak menyangka jika ketika menikmati kue lezat di dalam
café tadi sang kekasihnya itu juga memikirkan perut-perut kosong yang
duduk beralaskan karung putih yang saat ini ada di hadapannya.
Gadis itu mendekat dan memeluk kekasihnya ,ia bersyukur kepada tuhan
yang telah memberikan jawaban atas pertanyaanya,ia bersyukur dan
sangat-sangat menyukuri jika ia telah di bukakan mata hati tentang
sebuah ke muliaan.
Dan terakhir ia memeluk erat sang pemuda dengan
segenap jiwa,menyesali atas apa yang telah ia perbuat,kemudian berbisik
syahdu ; “Ya tuhan,jangan pisahkan aku dari orang ini”..
Oleh; Primanata.D,