Kumpulan Karya Sastra Primanata Dian Isa

Thursday, December 13, 2012 - 0 komentar

Puisi cinta-Kunang-kunang


"KUNANG-KUNANG"

Mengundang kehadiran ku
Beranda tak bertuan,tak jua berpintu
Kunang-kunang di depan mata
Ku terpaku melihat parasnya

Menarik kala di pandang
Menggoda jemari tuk menari
Kau ku beri nama kunang-kunang
Rasa hati hendak mengiringi

Kunang-kunang sinar memancar
Satu di antara seribu lampu bohlam
Kelap-kelip terangi gelap pudar
Malam-malam ku hitam kelam

Kunang-kunang dirimu indah
Selaksa lentera kau terangi mata
Ada seribu sepertimu
Telah ku temukan salah satu itu



BANJARMASIN,13/12/12
PRIMANATA.D
Wednesday, December 12, 2012 - 0 komentar

Puisi sosial-Lalat hijau


"LALAT HIJAU"

Kala fatamorgana di ujung mata
Kerak kering di sela bibir
Pelatuk baja masih setengah
Mata pemburu resah menyisir

Kepulan asap hitam mengejar awan
Kalajengking gurun hilang sembunyi
Topi kura-kura datang melawan
Usai tak usai kedua marasai

Capung-capung di perbatasan
Nada-nada pekak bising
Perut senapan tak berhenti makan
Ibu anak kurus kering

Lalat hijau pergilah kau..!
Baret hijau sudah di bahu mu
Katakan kepada pemimpin kalian...!
Kirimkan bantuan makanan

Agar tiada kelaparan..
Dan kesengsaraan
Ini sudah usai...
Bangkai terbengkalai


BANJARMASIN,12/12/12
PRIMANATA.D
Friday, December 7, 2012 - , 0 komentar

Puisi sosial-Elang-elang muda

"ELANG - ELANG MUDA"

Pinggiran jalanan kota
Tepian wara-wiri roda
Kuku-kuku kecil runcing
Bersanding di perang tanding

Dekapan pohon cendana
Halau tatapan mata surya
Sayapnya kibas mengepak
Bertarung di langit gagak

Elang elang muda penjelajah
Langit-langit khatulistiwa
Dadanya tak berbulu putih
Lehernya tak berdasi

Negri ini ganas semakin panas
Rantai makanan tak jelas
Elang-elang muda berburu mangsa
Kota jadi rimba,tikus jadi raja


BANJARMASIN,06/12/12
PRIMANATA.D
Wednesday, December 5, 2012 - , 0 komentar

Puisi ibu-Langit-langit kamar

"LANGIT-LANGIT KAMAR"

Beribu-ribu garis marka di tengah aspal hitam,
telah ku lewati satu per satu
Berkilo-kilo nisan tanda di pinggir jalan,
menggiringku ke tanah rantauan

; "Aku telah jauh..."

.................................................................
Dalam renung bersandar kasur tak berkaki
Ku pandangi langit-langit kamar yang setia menemani
Sudut-sudutnya,garis-garisnya,dan pijar lampu yang menyinari
Seakan berbicara menyabarkan hati

Seringkali hati ini sendu kala malam menjelma
Lamunan mengirimku terbang ke muka pintu rumah
Di sana ada tawa dan canda keluarga
Ada ciuman dan pelukan handai taulan tercinta

Langit-langit kamar masih setia menemani
Mengajak ku mengenang awal keberangkatanKu
Kala lambayan tangan semakin jauh ku tinggalkan
Hati ku terenyuh pilu...
Batin ini teramat nyilu...

Dalam renung bersandar kasur tak berkaki
Aku menghitung waktu hari ke hari
Sungguh telah lama nian...
Ku tak pulang ke kampung halaman

Di setiap malam kau ku rindukan
Belaian jemari tua yang tak lagi muda
Ibu...kita terpisah jarak dan waktu
Disini aku sangat merindukan mu

Langit-langit kamar ku pandangi
Ibu...wajah mu kian menghantui


BANJARMASIN,4/12/12
PRIMANATA.D
Sunday, December 2, 2012 - 0 komentar

Puisi sosial-Sang naga


"SANG NAGA"

Aku cahaya lentera pada kegelapan
Dian yang tak pernah padam
Menerangi jalan yang berliku
Setia di setiap langkah mu
Aku bersinar terang

Aku kertas petunjuk arah
Peta pedoman langkah
Membimbingmu dengan bijaksana
Menjadi panutan pada ke arifan
Aku adalah kebenaran

Aku sahabat jendral perang
Busur dengan mata panah berapi
Membidik tameng-tameng menghadang
Pada kecepatan yang tak tertandingi
Aku di takuti

Aku bermahkota,berhati mulia
Istana ku adalah penjara
Memberi adalah nasi ku
Menerima bagi ku debu
Aku di cintai

Aku badai gurun sahara
Aku letusan gunung berapi
Aku tsunami samudera hindia
Marahku adalah bencana bagi mu

Aku logam mulia
Aku kayu pepohonan
Aku tanah menyuburkan
Aku mencintai kedamaian dan ketenangan

"Aku lah Sang Naga"
Penguasa dua belas shio yang ada


Didedikasikan untuk para sahabat yang bershio Naga.
tahun 1964,1976,1988 - februari 1989,2012

PRIMANATA.D
- 0 komentar

Cerpen nasehat-Roti pisang keju

"ROTI PISANG KEJU"

Ketika itu seorang pemuda yang bekerja sebagai sales pulang dari luar kota untuk menemui kekasihnya yang sudah 6 bulan tidak bertemu,segera saja sang pacar mengajak untuk melepas kerinduan dengan menikmati makan malam pada sebuah cafe anak muda yang ramai di malam minggu.
"Yank...cafe ini biasa tempat aku bersama teman-teman nyantai kalo lagi suntuk..''..menu di sini lezat-lezat.."ucap sang gadis saat motor bebek berbadan usang yang di tunggangi mereka memasuki gerbang cafe berwarna putih biru.

Tak lama kemudian bebek itu pun di parkirkannya di antara ninja,dan satria-satria tangguh yang berbaris rapi,sejenak sang pemuda mengelus dada membandingkan dengan apa yang ia miliki.Huuft..."kapan ya aku bisa punya kaya gini"..ia bertanya-tanya dalam hati,namun secepat kilat hatinya menjawab.."Aku harus memperjuangkannya sendiri"..,Sembari melepas helm bututnya,pemuda itu melempar pandangan pada sisi gerbang cafe,tepat di bawah pagar pembatas cafe dan trotoar jalan duduklah seorang janda tua dengan 3 anaknya yang dekil beralas karung putih menatap kosong cawan plastik merah berisi lembaran kertas hijau dan logam logam rupiah.

"Yuk yank masuk...rame banget,cepet kita cari tempat"..Sang gadis menarik lengan pemuda,segera saja dua sejoli itu mencari meja dan kursi kosong di dalam cafe.Sang pemuda melihat sekeliling cafe,apa yang direkam pada mata tajamnya adalah ramai pemuda-pemudi kota dengan kehidupan yang sombong dan glamor."..Waah...ini tempatnya anak-anak orang kaya ya dik..?"..semua muda-mudi disini pembicaraanya tinggi semua..".pemuda itu pun membuka pembicaraan di meja cafe sembari menatap mata kekasihnya dengan penuh kerinduan.

Tak lama kemudian,menu pesanan tersaji di hadapan mereka,dua porsi kue tart pisang,dengan irisan potongan keju serta coklat cair dan susu putih kental tersaji sangat lezat.Keduanya menikmati santai sajian itu dengan gaya kebarat-baratan,karena mengikuti cara orang-orang di sekitar mereka.”Pisau di kiri dan garpu di kanan”….Oh begitu ya”..gumam hati pemuda,namun sang pemuda risih dengan hal demikian,ia meletakan pisau dan garpunya lalu meminta pelayan untuk mengambilkan sendok makan.Setelah ia mendapatinya pemuda itupun dengan tenang menaikan kaki kanannya di kursi,lalu mulai menikmati irisan setiap potong kuenya.Sementara beberapa pasang mata melirik ke arah mereka,mata-mata lemah yang tertuju pada sang pemuda seakan berkata.."dasar wong deso".

"Maaf dek kakak lebih suka begini maklum biasa di warteg".Sambil tersenyum memandangi paras kekasihnya yang cantik dan manis itu,sang pemuda seakan mencairkan suasana yang beku,kekasihnya hanya tersenyum mahal,seakan berat bibirnya untuk menampakan giginya yang putih rapi itu.Sekali lagi pemuda mengeluskan dadanya,"Mungkin aku tak bisa seperti mereka,pendidikan yang kudapatkan sangatlah jauh berbeda"...gumamaan hatinya mengiringi kunyahan kue yang perlahan masuk di mulut,menembus tenggorokan,lalu jatuh menyusuri usus-usus kebalnya.Pada potongan kue terakhir pemuda itu menatap keluar jendela,diantara lalu lalang muda mudi itu seorang bocah kecil menarik ekor-ekor belalang yang siap meluncur mengelilingi gemerlap kota dan dinginnya malam, diperhatikannya si bocah dengan lincah menyambar gumpalan-gumpalan kertas dari tangan-tangan halus tanpa cela.

"Aku sekarang tulang punggung keluarga,maaf kalo kakak terlalu lama pergi meninggalkan mu,kakak harap kamu bisa mengerti ya dik..”.Senyum lugu sang pemuda tercurah tulus dan manis,matanya memancarkan kepribadian yang bijaksana dan dewasa,tuturnya rapi tanpa ragu,sang kekasih pun menatap mata pemuda dengan rasa yang dalam,gadis muda berusia 21 tahun itu seakan ingin berkata jujur jika ia sudah memiliki laki-laki lain semenjak 4 bulan yang lalu.Hal itu di karenakan ia butuh seseorang yang dekat yang mampu menjadi tempat bersandar setiap waktu,namun ia tak mampu untuk mengatakannya,lidahnya kelu,hatinya mengunci semua kata,matanya terpaku pada garpu yang di putar-putar di kedua jarinya, ia berusaha untuk memperpanjang umur hubungan dengan pemuda yang sangat di cintainya selama 4 tahun yang saat ini ada di sampingnya.Ia tak bisa membohongi hati kecilnya,ia tahu persis jika pemuda itu adalah sosok laki-laki baik dan setia yang selalu ia tunggu kepulangannya dari luar kota selama 4 tahun berpacaran.Gadis itu menahan kata-katanya,ia berharap ada kekuatan besar yang mengukuhkan cintanya pada pemuda itu.Ia berdoa dalam hatinya agar tuhan menunjukan seorang pemimpin yang mampu membimbing jalan hidupnya dengan arif dan bijaksana untuk masa depannya.

“A’…Bungkus yang seperti ini satu ya”…suara lantang sang pemuda memecahkan lamunan gadis itu,..”Buat apa kak..?,hmm..enak ya..hee,he..”,Sang kekasih pun tersenyum lepas,giginya terlihat seperti susunan jagung muda,bibirnya tersungging manis merekah bagai buah delima terbelah.”Kau begitu indah…aku berjanji akan menjaga mu dengan segenap jiwa”…untaian kata-kata seakan mengalir tenang pada mata pemuda itu,sinar matanya melawan partikel-partikel cahaya lampu sorot café yang berpijar silau menusuk retina,namun tak mampu menghalangi tatapan matanya pada ke dua bola mata indah gadis yang sangat ia cinta.

Seaorang pelayan cafe dengan seragam putih dan garis-garis biru di lengan bajunya mendekati pemuda itu,seraya memberikan bungkusan kue tart pisang keju dan coklat yang sudah rapi terbungkus pada kotak kue didalam plastik putih,pelayan café itu memberikan secarik kertas untuk pembayaran.Pemuda dan kekasihnya berdiri serentak kemudian berjalan bersama menuju kasir yang tak jauh dari meja mereka,pemuda itu mengeluarkan dompet kulit berwarna coklat tua,sisi-sisi dompet itu jahitannya sudah terlepas,sehingga jika di isi uang koin sudah pasti uang koin itu akan lolos melalui celah yang sudah menganga.Ia menarik selembar biru yang masih terlihat baru,kemudian dengan ramah ia berpamitan kepada penjaga kasir yang berjam-jam menebar senyum di mata pengunjung yang datang.
”Terimakasih ya teh,.mari A’..permisi..".Senyum pemuda itu seakan memacu semangat semua karyawan café untuk mempertahankan senyum ramah mereka kepada pengunjung.

Langkah sepasang kekasih itu seirama,sang gadis memegang jemari pemuda menyusuri susunan kursi dan meja menuju pintu keluar café,mereka adalah pasangan yang serasi,sudah sepatutnya pemuda yang ramah tamah itu mendapati gadis muda,cantik jelita dan pandai menjaga perasaan lawan jenisnya.Kemandirian,kedewasaan,tampan,berani,serta pandai bertutur kata telah memikat hati sang gadis pada pemuda berusia 23 tahun yang sudah dikenalnya cukup lama itu.

Kini mereka berdua sudah di lapangan parkir café,sementara sang gadis masih menuntun pemuda itu kearah tempat mereka memarkirkan motor yang sudah berpindah tempat,namun seketika pemuda itu menarik tangan sang gadis menuju pintu gerbang café,..”Dik kita kesana dulu yuk’’.Pemuda itu mengajak sang gadis untuk mengikuti langkah kakinya,”Kemana lagi kak..?”..”Sst..dah ikut aja…yuuk..”..pemuda itu tersenyum menatap kekasihnya lalu sekejap mengarahkan kepalanya pada seoarang janda tua dan 3 orang anaknya yang menahan dinginnya malam kota Bandung di trotoar gerbang café.

“Ibu… ini untuk ibu dan anak-anak…mungkin ibu sudah mencicipi medapati uang,tapi ini makanan di dalam café sangat lezat sekali rasanya,mungkin juga ibu belum pernah mencicipinya,ini bu…silahkan di buka dan di cicipi..”.

Janda tua dan ketiga anaknya terperangah melihat dan mendengar kata-kata pemuda itu,mereka menopang dagunya keatas membenarkan jika selama ini mereka duduk disana hanya mendapati uang dari pemberian pengunjung café yang lalu lalang keluar masuk gedung berkaca bening tembus pandang dengan susunan meja dan kursi yang rapi.Sementara sang gadis menatap sang pemuda dengan mata berkaca-kaca,ia tidak menyangka jika ketika menikmati kue lezat di dalam café tadi sang kekasihnya itu juga memikirkan perut-perut kosong yang duduk beralaskan karung putih yang saat ini ada di hadapannya.

Gadis itu mendekat dan memeluk kekasihnya ,ia bersyukur kepada tuhan yang telah memberikan jawaban atas pertanyaanya,ia bersyukur dan sangat-sangat menyukuri jika ia telah di bukakan mata hati tentang sebuah ke muliaan.
Dan terakhir ia memeluk erat sang pemuda dengan segenap jiwa,menyesali atas apa yang telah ia perbuat,kemudian berbisik syahdu ; “Ya tuhan,jangan pisahkan aku dari orang ini”..

Oleh; Primanata.D,
Saturday, December 1, 2012 - 0 komentar

Puisi ketenangan jiwa-Darmaga ketenangan


"DARMAGA KETENANGAN"

Berlalulah sebuah ketidakpastian
Setelah borgol besi mengunci tangan
Serta babak belur di sekujur badan
Mengurung ku di keranda pikiran

Majas ironi kini terpatri
Menjadi sindiran halus yang menjadi-jadi
Bagai nota-nota tagihan menumpuk tinggi
Membuat resah hati mencari solusi

Aku merasa terjajah dan di jajah
Pada kepungan segudang masalah
Dan belengu-belengu berbaju jubah
Memaksa ku menghindar dari benih-benih fitnah
Strategiku ingin merdeka

Tak patut jadi ratapan
Tapak ku maju kedepan
Sejenak ku lupakan tikaman ancaman
Merenungkan arti kebebasan
Pada darmaga ketenangan

Oh tuhan..
; "Tabahkan"



Banjarmasin,01/12/12
PRIMANATA.D

Followers