Kumpulan Karya Sastra Primanata Dian Isa
Wednesday, June 5, 2013 -
Puisi religi,
Puisi sosial
0
komentar
Puisi religi,
Puisi sosial
0
komentar
Puisi renungan-Menampung rinai hujan
"MENAMPUNG RINAI HUJAN"
Bilamana ombak membenak-kan tubuhku
ku terguling buta di dasar samudera
dan Jemari ini meraih seutas tali
maka tali itu adalah kau
Manakala ku pijak dada sahara
fatamorgana keringkan dahagaku
aku terkulai di bibir telaga gurun
maka oase itu adalah dirimu
Aku hanyalah insan yang menaiki tangga angan-angan
behalusinasi bahwa dunia ini dapat ku beli
membusungkan dada,angkuh memanah kata
lupa diri bahwa hari terus berganti
Yaah..bertambah usia
Waktu memang tak mau menunggu
kita harus menepati janji
mememulai menampung rinai hujan
tuk wujudkan semua impian
Bengkulu,05/06/2013
Primanata Dian Isa
Tuesday, June 4, 2013 -
Sajak sosial
0
komentar
Sajak sosial
0
komentar
Sajak sosial-Penyair di awang-awang
Sajak ;
"UNTUK PENYAIR DI AWANG-AWANG"
Sajakku di punggung tudung lampu
cahaya kuning tua menjamahnya
berkarya merupakan bagian hidup
antara terang dan gelap
kata yang kelu ku ungkap
Karya tidak akan kehilangan makna !
Itu seperti batu dan pori-porinya
yang hilang adalah keberanian individu
tenggelam disapu gelombang derita
Kita yang terlahir dan yang tertakdir..
Menjadi manusia..
; maka manusiawi-kanlah diri sendiri dan manusia lainnya
Wahai para penyair awang-awang
makilah diri bila telanjang
atas semua kata yang ku gurat di semua palang
ku tak perduli bila kau buang
aku menunggu kritikmu !
katakanlah..; mengapa ?,
dan salah pasti terselip didada kita
Kita mencari pembenaran dari setiap kata
hanya dibaca,tanpa diterapkan
karenanya ku katakan padamu..
; "Jangan terlahir sebagai munafik....!"
Teruntuk penyair awang-awang
Inilah sajak dari pembuat sajak
Tuangkanlah,tumpahkanlah,hambu rkanlah
Sebuah tulisan yang menembus kalbu kehidupan...
Negara ini sudah terlalu banyak persoalan...
Bahasa hatimu,Kalimat jiwamu...
Keduanya merupakan penyejuk tumpah darahmu sendiri...
Dan kita tidak hanya diam dalam mati suri
Untuk sebuah karya,
pada dunia maya..
Konsep : Jumadi Gharib Al-Ghalwasy
Penyulap : Mata Naga
Bengkulu,june13'
PRIMANATA.D
"UNTUK PENYAIR DI AWANG-AWANG"
Sajakku di punggung tudung lampu
cahaya kuning tua menjamahnya
berkarya merupakan bagian hidup
antara terang dan gelap
kata yang kelu ku ungkap
Karya tidak akan kehilangan makna !
Itu seperti batu dan pori-porinya
yang hilang adalah keberanian individu
tenggelam disapu gelombang derita
Kita yang terlahir dan yang tertakdir..
Menjadi manusia..
; maka manusiawi-kanlah diri sendiri dan manusia lainnya
Wahai para penyair awang-awang
makilah diri bila telanjang
atas semua kata yang ku gurat di semua palang
ku tak perduli bila kau buang
aku menunggu kritikmu !
katakanlah..; mengapa ?,
dan salah pasti terselip didada kita
Kita mencari pembenaran dari setiap kata
hanya dibaca,tanpa diterapkan
karenanya ku katakan padamu..
; "Jangan terlahir sebagai munafik....!"
Teruntuk penyair awang-awang
Inilah sajak dari pembuat sajak
Tuangkanlah,tumpahkanlah,hambu
Sebuah tulisan yang menembus kalbu kehidupan...
Negara ini sudah terlalu banyak persoalan...
Bahasa hatimu,Kalimat jiwamu...
Keduanya merupakan penyejuk tumpah darahmu sendiri...
Dan kita tidak hanya diam dalam mati suri
Untuk sebuah karya,
pada dunia maya..
Konsep : Jumadi Gharib Al-Ghalwasy
Penyulap : Mata Naga
Bengkulu,june13'
PRIMANATA.D
Sajak pemalas-Sepuluh dan Dua belas
"SEPULUH DAN DUA BELAS"
Angka sepuluh membangunkanku
lesu merangkak dari tipisnya tilam
Guling terbaring menasehati
; "sini" tidurlagi sayang...
Darahku,tubuhku lemas
uap mulutku lepas bebas
Bulu berbaris tipis mengemis
; "hanya satu jam saja"
"Gletak !"
hayal di bumbungan atap rumah
angin sebagai jubah
aku terbang,aku melayang
senang..
Angka dua belas menusuk mata
Hilang rencana tinggal peristiwa
Lalu gumam diri..
; Mau jadi apa aku ini ?
Esok terulang lagi...
Bengkulu,Juni13'
Primanata Dian Isa
Angka sepuluh membangunkanku
lesu merangkak dari tipisnya tilam
Guling terbaring menasehati
; "sini" tidurlagi sayang...
Darahku,tubuhku lemas
uap mulutku lepas bebas
Bulu berbaris tipis mengemis
; "hanya satu jam saja"
"Gletak !"
hayal di bumbungan atap rumah
angin sebagai jubah
aku terbang,aku melayang
senang..
Angka dua belas menusuk mata
Hilang rencana tinggal peristiwa
Lalu gumam diri..
; Mau jadi apa aku ini ?
Esok terulang lagi...
Bengkulu,Juni13'
Primanata Dian Isa
Monday, June 3, 2013 -
Sajak sosial
0
komentar
Sajak sosial
0
komentar
Sajak sosial-Harga kepercayaan-PAKU TANPA PALU
"PAKU TANPA PALU"
Kaku...
Jasadku kaku jual diri tak laku,
muka srigala dipandang berbahaya
Gerak gerikku kaku,
dikau tak percaya padaku...
Mata menilai harga wibawa,
asli atau palsu samar
Tebak terka psikologi jiwa,
semua belum pasti benar
Batang hidungmu kutatap,
kepercayaan kuharap....
Biji-bijian bermain di humus,
Dibelai sabar sinar fajar
Aku kan menyeruak gumpal tanah
Menjadi hijau...
Bersanding dibawah kaki langit biru
Ujung daun itu adalah sisa benih...
Bukti kelak ku tumbuh
Ku masih kaku..
Dan semua ini bagai paku tanpa palu
Bengkulu,03/06/13'
Primanata Dian Isa
Kaku...
Jasadku kaku jual diri tak laku,
muka srigala dipandang berbahaya
Gerak gerikku kaku,
dikau tak percaya padaku...
Mata menilai harga wibawa,
asli atau palsu samar
Tebak terka psikologi jiwa,
semua belum pasti benar
Batang hidungmu kutatap,
kepercayaan kuharap....
Biji-bijian bermain di humus,
Dibelai sabar sinar fajar
Aku kan menyeruak gumpal tanah
Menjadi hijau...
Bersanding dibawah kaki langit biru
Ujung daun itu adalah sisa benih...
Bukti kelak ku tumbuh
Ku masih kaku..
Dan semua ini bagai paku tanpa palu
Bengkulu,03/06/13'
Primanata Dian Isa
Sunday, June 2, 2013 -
Pantun lama
0
komentar
Pantun lama
0
komentar
Pantun Aa-Aa
Pantun AA-AA
Gunung salak diukur jari
Mengalir santun pada puisi
Senandung sajak menghibur hati
Syair dan pantun tersusun rapi
Aduhai dua bahu kuat legam
Wajah lelah payah kusam
Hai-hai muda semagat tak padam
Cinta negara karya tertanam
Bengkulu,June13'
Primanata DiaN Isa
Gunung salak diukur jari
Mengalir santun pada puisi
Senandung sajak menghibur hati
Syair dan pantun tersusun rapi
Aduhai dua bahu kuat legam
Wajah lelah payah kusam
Hai-hai muda semagat tak padam
Cinta negara karya tertanam
Bengkulu,June13'
Primanata DiaN Isa
Pantun Ab-Ab
Pantun AB-AB
Sepak sepak dengkul sakit
Benang peniti di alas tampi
Gelak tawa merangkul langit
Senang hati nampak di pipi
Lidi melengkung dipijak burung
Lepas berdendang murai batu
Kaki tersandung hatipun bingung
Membalas pantun ramai mendayu
Bengkulu,June 13'
Primanata Dian Isa.
Sepak sepak dengkul sakit
Benang peniti di alas tampi
Gelak tawa merangkul langit
Senang hati nampak di pipi
Lidi melengkung dipijak burung
Lepas berdendang murai batu
Kaki tersandung hatipun bingung
Membalas pantun ramai mendayu
Bengkulu,June 13'
Primanata Dian Isa.
Puisi cinta-Kerang dan karang
"KERANG DAN KARANG"
Seribu raja gundah diqolbu
Dua kali lipatnya selir merayu pilu
Wahai penasehat batin !
Lidi jiwa ini terpilin
Satu bakau menantang ombak
Biduk tua hampir retak
Lari kemana ?, sembunyi dimana ?
Sedang aku di genggam samudera
Cinta itu laksana kerang
Dihempas ombak ke-karang
Asin pekat...
Kerang kian kuat melekat
Dan kita laksana karang
Tubi menubi badai gelombang menyerang
Kita tak bodoh...
Oleh sebab itu kita kokoh
Wahai pemilik hati pembuka mimpi...!
Daratan belum tenggelam
Risauku menghujam
Bengkulu,02/06/2013
Primanata Dian Isa
Subscribe to:
Posts (Atom)