"PUISI MALAM INI"
Senada gemericik rintik hujan,
Dihempas angin ke dedaunan
Selarik puisiku malam ini,
Terdengar sendu,getarkan kalbu
Langkah ini kian jauh penuh liku,ayah...
Hadiah apa ?,bahagia apa yang dapat kuberikan ?
Kawat berduri halang melintang didepan
Aku masih di medan pertempuran
Senja tenggelam,dan..
Sudahlah fajar menyingsing selama sewindu
Kejutan terindah apa yang dapat ku berikan untukmu ibu..
Hingga detik ini,
Aku masih berjalan tanpa sepatu
Yaa langit...yaa bumi
Yaa Illahi,engkaulah yang memiliki
Setapak jalan berbatu,kering,dan tandus
Aku bersimpuh haru meminta
Panjangkanlah usia
orangtua,
hamba..
Bengkulu,10/05.2013
Primanata Dian Isa
Kumpulan Karya Sastra Primanata Dian Isa
Tuesday, June 11, 2013 -
Puisi bapak,
Puisi ibu,
Puisi sosial
0
komentar
Puisi bapak,
Puisi ibu,
Puisi sosial
0
komentar
Puisi untuk kedua orang tua
Monday, June 10, 2013 -
Puisi rindu
0
komentar
Puisi rindu
0
komentar
Puisi rindu-Rindu berkarat
"'RINDU BERKARAT"
Apa yang difikirkannya tak dapat lagi kubaca
Hanya mimpi lama,binal tertawa
Diantara batang hidung,dan mata itu
Setangkup rindu terbang bak butiran debu
Aku melayang di ayunan roman
Kau rantai berkarat,
ku genggam erat...
Primanata Dian Isa
Apa yang difikirkannya tak dapat lagi kubaca
Hanya mimpi lama,binal tertawa
Diantara batang hidung,dan mata itu
Setangkup rindu terbang bak butiran debu
Aku melayang di ayunan roman
Kau rantai berkarat,
ku genggam erat...
Primanata Dian Isa
Puisi untuk sebuah pernikahan
"HIDUPLAH BERSAMAKU"
Cukuplah sarung dan mukena
Dua sejadah,tasbih kopiah
Hati keras kebal,mengijak krikil hidup
Kening mu nak ku kecup
Kita menikah...
Saat ini tiada harta benda
Angan terpancang ditanah lapang
Bukan pasrah,aku ber-upaya
Menangkap udara,menyimpannya disaku rencana
Dewiku antara bumi dan langit
Kilat digumpal awan pecah
Kita sah...
Bkl,June13'
Primanata Dian Isa
Cukuplah sarung dan mukena
Dua sejadah,tasbih kopiah
Hati keras kebal,mengijak krikil hidup
Kening mu nak ku kecup
Kita menikah...
Saat ini tiada harta benda
Angan terpancang ditanah lapang
Bukan pasrah,aku ber-upaya
Menangkap udara,menyimpannya disaku rencana
Dewiku antara bumi dan langit
Kilat digumpal awan pecah
Kita sah...
Bkl,June13'
Primanata Dian Isa
Saturday, June 8, 2013 -
Puisi lama
0
komentar
Puisi lama
0
komentar
Fabel-puisi lama-Tupai-Monyet-Harimau sumatera
Fabel ;
"DURIAN RANUM"
Tupai muda menyambut kedatangan fajar
Muncungnya menghirup udara sejuk menusuk
Kepalanya keluar dari kelapa tua yang sudah berlobang
Bukti kanuragan situpai nan sakti
Menyulap buah nyiur menjadi tempat tidur
Tupai gesit lincah meloncat
Meminum sari bunga pohon jambu bol
Ketika dahaganya lepas
Perutnya mulai keroncongan
Mata tupai sebesar kabau itu terperangah
Pohon durian dengan buahnya yang ranum begitu menggoda
Tapi para kera terlihat serius dalam rapat
Berdiskusi tentang jatah setiap kepala keluarga
Tupai duduk jenuh menunggu
Sementara harimau sumatra hamil muda
Angin datang sepintas kencang
Pohon durian besar serentak goyang
Buah durian ranum lepas tangkai
Kera teriak dengan mata melotot
; "Duriankuuuu....!"
Kera ribut carut marut
Rapat tak tuntas harapan kandas
Tupai air liurnya netes dari ketinggian
Jatuh dikepala harimau sumatra
Harimau sumatra tak perduli
Ngidamnya terkabuli...
.............................. .............................. .
Pesan yang dapat dipetik :
Berbagilah seadil-adilnya,jangan terlalu lama berfikir untuk sebuah jatah pembagian.
Karena hal tak terduga itu pasti ada.
Bengkulu,09/06/2013
Primanata Dian Isa
"DURIAN RANUM"
Tupai muda menyambut kedatangan fajar
Muncungnya menghirup udara sejuk menusuk
Kepalanya keluar dari kelapa tua yang sudah berlobang
Bukti kanuragan situpai nan sakti
Menyulap buah nyiur menjadi tempat tidur
Tupai gesit lincah meloncat
Meminum sari bunga pohon jambu bol
Ketika dahaganya lepas
Perutnya mulai keroncongan
Mata tupai sebesar kabau itu terperangah
Pohon durian dengan buahnya yang ranum begitu menggoda
Tapi para kera terlihat serius dalam rapat
Berdiskusi tentang jatah setiap kepala keluarga
Tupai duduk jenuh menunggu
Sementara harimau sumatra hamil muda
Angin datang sepintas kencang
Pohon durian besar serentak goyang
Buah durian ranum lepas tangkai
Kera teriak dengan mata melotot
; "Duriankuuuu....!"
Kera ribut carut marut
Rapat tak tuntas harapan kandas
Tupai air liurnya netes dari ketinggian
Jatuh dikepala harimau sumatra
Harimau sumatra tak perduli
Ngidamnya terkabuli...
..............................
Pesan yang dapat dipetik :
Berbagilah seadil-adilnya,jangan terlalu lama berfikir untuk sebuah jatah pembagian.
Karena hal tak terduga itu pasti ada.
Bengkulu,09/06/2013
Primanata Dian Isa
Friday, June 7, 2013 -
Puisi tanah air,
Sajak sosial
0
komentar
Puisi tanah air,
Sajak sosial
0
komentar
SERIBU PUISI
Malam ini,
aku melihat seribu puisi mendayu
laksana serabut akar tercabut
segala gundah tercecer tumpah
setimbun risau runtuh dari puncak kebisuan
Di pacuan waktu
aku melihat segunung rupa problema
goresan tinta tebar menyemai
gita cinta layu lesu
bujuk rayu hujan peluru
Pujangga tanpa muka berselimut duka
bidadari bertopeng bergelut asmara
para burung gagak ganas bersajak
dewa dewi gambarkan sunyi
memetik dawai teramat piawai
Sekarang matahari lelap beristirahat
ku pahat aksara digelap pekat
bersanding diantara berjuta kepala
layar cahaya disetiap sudut bumi
untuk seribu puisi
ibu pertiwi
Bengkulu,08.06/13
Primanata Dian Isa
Puisi cinta-Sang hawa
"Untuk Sang Hawa"
Deru air jatuh damaikan lara jiwa
Embunnya adalah cinta,membasuh luka
Aku tak perduli tentang mata telaga
Tentang asal muasal sianak jeram
Seperti arusnya...
Membentur cadas,rapuhkan bangkai kayu
Mengikis batu,kemudian berlalu
Tenang tinggalkan muka tebing
Itulah dirimu wahai sang hawa
Laksana curug dipusara rimba belantara
Damai bersamamu,
maka hiduplah bersamaku
Bengkulu,June13'
Primanata Dian Isa
Deru air jatuh damaikan lara jiwa
Embunnya adalah cinta,membasuh luka
Aku tak perduli tentang mata telaga
Tentang asal muasal sianak jeram
Seperti arusnya...
Membentur cadas,rapuhkan bangkai kayu
Mengikis batu,kemudian berlalu
Tenang tinggalkan muka tebing
Itulah dirimu wahai sang hawa
Laksana curug dipusara rimba belantara
Damai bersamamu,
maka hiduplah bersamaku
Bengkulu,June13'
Primanata Dian Isa
Wednesday, June 5, 2013 -
Puisi lama
0
komentar
Puisi lama
0
komentar
Puisi lama aa-bb
Puisi lama AA-BB
"BERFIKIR TIDAK BERGUNA"
Antan patah,lesung hilang
Belanga retak ditindih parang
Ayam jantan tumpul taji
Aku ampas,didasar pati
Belalang daun patah kakinya
Tiada tenaga daya upaya
Angin menerpa sidaun serai
Hujan badai hidup merasai
Arang basah,puntung muda
Pucuk tebu kurang gula
Antah sembunyi diperiuk nasi
Abu berdebu dalam lemari
Pelanduk mengerang dalam kandang
Kurus kering tinggal tulang
Rumput seikat layu tua
Ya Allah tolonglah hamba
Bengkulu,05/06/2013
Primanata Dian Isa.
"BERFIKIR TIDAK BERGUNA"
Antan patah,lesung hilang
Belanga retak ditindih parang
Ayam jantan tumpul taji
Aku ampas,didasar pati
Belalang daun patah kakinya
Tiada tenaga daya upaya
Angin menerpa sidaun serai
Hujan badai hidup merasai
Arang basah,puntung muda
Pucuk tebu kurang gula
Antah sembunyi diperiuk nasi
Abu berdebu dalam lemari
Pelanduk mengerang dalam kandang
Kurus kering tinggal tulang
Rumput seikat layu tua
Ya Allah tolonglah hamba
Bengkulu,05/06/2013
Primanata Dian Isa.
Subscribe to:
Posts (Atom)