Sajak : "Plat Seng"
Aku ingin mereka itu ramah
Seperti pelacur di musim hujan
Aku ingin mereka itu senyum
Seperti para spg di mall ber-ac
Aku ingin mereka itu menyapa
Seperti pedagang kaki lima
Dan aku ingin mereka tertawa
Seperti gelandangan hilang arah
Lidah ku ini gagu
Dipilin sembilu bambu muda
Protesku di plat-plat seng
Menempel di pohon cemara gunung
Aku katakan budaya tata krama sudah tandus
Toleransi dan tenggang rasa sudah longsor
Etika kesopanan berubah belukar
Berduri dan liar
Tapi gunung ini terlampau tinggi tuk kudaki
Terlalu besar belantaranya
Aku melihat awan hitam di punggung gunung
Di depanku hamparan rumput tak peduli
Pohon muda hilang kendali
Aku mendengar gemuruh batu
Gaduh ricuh tanpa malu
Bengkulu,22/11/13
Primanata D.
Kumpulan Karya Sastra Primanata Dian Isa
Monday, December 9, 2013 -
Sajak sosial
0
komentar
Sajak sosial
0
komentar
Sajak sosial-Plat Seng
Puisi cinta-aku lupa
"Akoe loepa"
Akoe loepa akan roepa
Bentoek radjoetan panah hati
Patah djaroem benang poetoes
Hati tertoesoek harapan poen poepoes
Mana wangi aroma khas ?..
Mentjioem sedjoeta warna hanya memboeat pening
Akoe bertanya pada dinding
Yang kakoe tanpa geming
Akoe djoega loepa woedjoet ramboet
Kemilaoe hitam mendjamah boentoet
Olehnya akoe loeloeh lantak
Terpakoe menatap tak bergerak
Akoe loepa serak soeara memandja
Memanggil koe di batas kota
Kamoelah boenga di loerong sempit
Rindoe menggamit sakit menggigit
Bengkulu,26/11/13
Primanata.D
Akoe loepa akan roepa
Bentoek radjoetan panah hati
Patah djaroem benang poetoes
Hati tertoesoek harapan poen poepoes
Mana wangi aroma khas ?..
Mentjioem sedjoeta warna hanya memboeat pening
Akoe bertanya pada dinding
Yang kakoe tanpa geming
Akoe djoega loepa woedjoet ramboet
Kemilaoe hitam mendjamah boentoet
Olehnya akoe loeloeh lantak
Terpakoe menatap tak bergerak
Akoe loepa serak soeara memandja
Memanggil koe di batas kota
Kamoelah boenga di loerong sempit
Rindoe menggamit sakit menggigit
Bengkulu,26/11/13
Primanata.D
Sajak sosial-masalah banjir
"menunggu bencana"
Iboe kota akan menoenjoeken pada doenia
Kalo penghoeninja djoroek
Sebab sampah masih menoempoek
Di kali-kali metropolitan
Jang mengalami pendangkalan
Sebeloem pesta rakjat dimoelai
Pemilihan presiden dan wakil presiden
Iboe kota akan menelandjangi
Etos kerdja para pemimpin
Dan eksekoetor-eksekoetornja
Jang bermain dengan tjara kotor
Akoe tidak menjalahkan maha radja
Tapi menjalahkan dirikoe sendiri
Dan semoea rakjat Indonesia
Jang telah hilang kemaoean
Tekadnja poedar dihemboes angin zaman
Hoi poetra poetri iboe pertiwi...
Dengarlah bilamana bentjana berbitjara
Lihatlah akan roepa poeing-poeing reroentoehan
Maka di sana ada tangis kehilangan
Serta lapar memboeat sadar
Bencolen,27/11/13
Primanata D.
Iboe kota akan menoenjoeken pada doenia
Kalo penghoeninja djoroek
Sebab sampah masih menoempoek
Di kali-kali metropolitan
Jang mengalami pendangkalan
Sebeloem pesta rakjat dimoelai
Pemilihan presiden dan wakil presiden
Iboe kota akan menelandjangi
Etos kerdja para pemimpin
Dan eksekoetor-eksekoetornja
Jang bermain dengan tjara kotor
Akoe tidak menjalahkan maha radja
Tapi menjalahkan dirikoe sendiri
Dan semoea rakjat Indonesia
Jang telah hilang kemaoean
Tekadnja poedar dihemboes angin zaman
Hoi poetra poetri iboe pertiwi...
Dengarlah bilamana bentjana berbitjara
Lihatlah akan roepa poeing-poeing reroentoehan
Maka di sana ada tangis kehilangan
Serta lapar memboeat sadar
Bencolen,27/11/13
Primanata D.
Puisi sosial-Orang-orang terbuang
Puisi ; Orang orang terbuang
O ibu luntang lantung
Anak tak bernaung
Bapak lupa pulang
Kota jadi sarang
Ibu asap menderu
Anakmu hirup debu
Bapak buta jalan
Bapak ibu anak terbuang
Ibu bernyanyi
Anak melipat sepi
Bapak disayat dingin
Malam sembab mendekap angin
@primanata
O ibu luntang lantung
Anak tak bernaung
Bapak lupa pulang
Kota jadi sarang
Ibu asap menderu
Anakmu hirup debu
Bapak buta jalan
Bapak ibu anak terbuang
Ibu bernyanyi
Anak melipat sepi
Bapak disayat dingin
Malam sembab mendekap angin
@primanata
Sajak-dibalik majas majas
Sajak ; Hijau kuning
Muntah diksi tumpah berai
Tinja kata bercokol di anus kamus
Aku mabuk di satu halaman
Fantasi-fantasi aksara kutu buku
Aku katakan ; "buntut berdarah"
Sarkasme dari suku palas pasemah
Dari jeram-jeram cerita mu itu
Mabukku serupa di kelok sembilan
Ha ! ada kau cerna wahai penulis waras ?
Begitu liar kah aksaraku ini ?
Aku kamu serupa pacul
Aksara itu petakan sawahnya
Mereka hanya melihat hijau atau kuning
Terpukau atau pening
Bengkulu,28/11/13
Primanata.D
Muntah diksi tumpah berai
Tinja kata bercokol di anus kamus
Aku mabuk di satu halaman
Fantasi-fantasi aksara kutu buku
Aku katakan ; "buntut berdarah"
Sarkasme dari suku palas pasemah
Dari jeram-jeram cerita mu itu
Mabukku serupa di kelok sembilan
Ha ! ada kau cerna wahai penulis waras ?
Begitu liar kah aksaraku ini ?
Aku kamu serupa pacul
Aksara itu petakan sawahnya
Mereka hanya melihat hijau atau kuning
Terpukau atau pening
Bengkulu,28/11/13
Primanata.D
Sajak memperingati hari bumi 22 april-nyanyian anak negeri
Bukit mengerang
Bencana
Malapetaka
Pohon pohon tumbang
Bukit menjerit mengerang
Telanjang
Bencana
Malapetaka
Burung burung terbang
Babi babi menyerang
Kera kera bersarang
Di ladang
Bencana
Malapetaka
O mengapa harus alam
menjadi korban kesejahteraan
Kemakmuran yang merata
sulit dicapai
Sebab nafsu
buru membadai
O rumahmu berdiri pilar pilar
Dari akar akar pohon menjuntai
Siamang siamang teriak lantang
Yow !!!
Tebang dan bantai !
Burung burung terbang
Babi babi menyerang
Kera kera bersarang
Di ladang
Pohon pohon tumbang
Bukit menjerit mengerang
Telanjang
Pohon pohon tumbang
Bukit menjerit mengerang
Jadi tambang
Cord ; Am
F G Am
F C G Am
Lyric by ; @primanata
Bencana
Malapetaka
Pohon pohon tumbang
Bukit menjerit mengerang
Telanjang
Bencana
Malapetaka
Burung burung terbang
Babi babi menyerang
Kera kera bersarang
Di ladang
Bencana
Malapetaka
O mengapa harus alam
menjadi korban kesejahteraan
Kemakmuran yang merata
sulit dicapai
Sebab nafsu
buru membadai
O rumahmu berdiri pilar pilar
Dari akar akar pohon menjuntai
Siamang siamang teriak lantang
Yow !!!
Tebang dan bantai !
Burung burung terbang
Babi babi menyerang
Kera kera bersarang
Di ladang
Pohon pohon tumbang
Bukit menjerit mengerang
Telanjang
Pohon pohon tumbang
Bukit menjerit mengerang
Jadi tambang
Cord ; Am
F G Am
F C G Am
Lyric by ; @primanata
Sajak memperingati hari bumi 22 april
"Aku dan Gunung"
Dedaunan merebah mendesah basah
Yang tenang melayang kemudian mendarat bertingkat-tingkat rapat
Menumpuk hingga lapuk membusuk
Di tanah-tanah miring yang tak pernah kering
Lembab mengendap
Di beku dingin hangat menguap
Langkahku karam
Di humus kakiku tenggelam
Tebing-tebing liat menyekat hebat
Nafasku sesak memberat
Aku sudah setinggi awan
Didorong para kabut yang terus berkejaran
Di punggungnya angin menghempas anak-anak hujan
Dingin semakin dingin
Sendi-sendiku ngilu
Jemari kaku membatu
Aku mati lesu
Aku dipangku randu yang membisu
Akar-akar rotan bersedu sedan
Keduanya berkata terbata-bata ;
"Apakah kau manusia?"
"Mereka menyayatku dengan sebilah belati tajam"
Lihatlah tubuhku penuh luka"
"Aku tak kenal mereka"
"Mereka menulis nama dan tanda"
"Apakah kau manusia"?
"Yang akan melakukan hal serupa"
Lihat bungkusan plastik di tangan kananmu"
"Dan gabus lisong di sela jarimu"
"Aku tanpa jubah duri"
"Akankah kau campakkan keduanya di rongga-rongga dadaku ini"
Duka terasa pengap
diperangkap kabut yang kembali merayap
Derak derak ranting patah gundah gulana
Remuk tak berupa diatas noda dan luka
Ujung api di ibu jari dan telunjuk
Kutebar abu dengan khusyuk
Pedih perih menusuk
Kala sekumpulan kecici hadir membesuk
Angin berarak membuka selimut mega-mega
Biru sudah wajah cakrawala
Sang surya mendekap embun
Kemudian menjadikannya butiran intan yang berkilauan
Kini sudah di hidungnya yang mancung
Aku terpesona mendengar kicau kutilang gunung
Yang bersenandung seusai mendung berkabung
Disemak-semak batang kayu abadi dan celah cadas ku hela nafas bebas
Pandanganku menerapas pada bukit-bukit tak berparas
Separuh tubuhnya hancur
Perutnya terburai lebur
Dan segala isinya diperebutkan
Oleh keserakahan dan kesewenangan
Batu gajah meringkuk malu
Setangkai edelweiss jatuh berderai
Patah terkulai
Keduanya bertanya ;
"Apakah kau manusia?"
Mereka menikamku dengan belati tajam"
Memberinya gincu kemerahan"
"Yang tak jua luntur di basuh hujan"
"Apakah kau manusia?"
Lihat kami yang mekar"
"Kau hitung pun tak sukar"
Aku lipat-lipat yang kulihat
Kulekat dalam ingat
Mungkin Tuhan beri rahmat
Bukakan mata yang tertutup rapat
Sepi kian mencekam
Dalam hening kupatri diam
Aku ingin berkaca pada kubangan hujan
Dari semua perlakuan
Yang hanya menambah penderitaan
Selusin batu gajah mengelinding
Aku hancur selaksa pecahan beling
Tangan-tangan batu dilereng curam berusaha meraih teriakku yang semakin tenggelam
Asap-asap belerang semakin garang
Jerit sakit kencang mengerang
Aku hilang suara,hilang bayangan
Di dunia pewayangan yang kusebut khayangan
Bengkulu,30/11/13
Primanata.D
Dedaunan merebah mendesah basah
Yang tenang melayang kemudian mendarat bertingkat-tingkat rapat
Menumpuk hingga lapuk membusuk
Di tanah-tanah miring yang tak pernah kering
Lembab mengendap
Di beku dingin hangat menguap
Langkahku karam
Di humus kakiku tenggelam
Tebing-tebing liat menyekat hebat
Nafasku sesak memberat
Aku sudah setinggi awan
Didorong para kabut yang terus berkejaran
Di punggungnya angin menghempas anak-anak hujan
Dingin semakin dingin
Sendi-sendiku ngilu
Jemari kaku membatu
Aku mati lesu
Aku dipangku randu yang membisu
Akar-akar rotan bersedu sedan
Keduanya berkata terbata-bata ;
"Apakah kau manusia?"
"Mereka menyayatku dengan sebilah belati tajam"
Lihatlah tubuhku penuh luka"
"Aku tak kenal mereka"
"Mereka menulis nama dan tanda"
"Apakah kau manusia"?
"Yang akan melakukan hal serupa"
Lihat bungkusan plastik di tangan kananmu"
"Dan gabus lisong di sela jarimu"
"Aku tanpa jubah duri"
"Akankah kau campakkan keduanya di rongga-rongga dadaku ini"
Duka terasa pengap
diperangkap kabut yang kembali merayap
Derak derak ranting patah gundah gulana
Remuk tak berupa diatas noda dan luka
Ujung api di ibu jari dan telunjuk
Kutebar abu dengan khusyuk
Pedih perih menusuk
Kala sekumpulan kecici hadir membesuk
Angin berarak membuka selimut mega-mega
Biru sudah wajah cakrawala
Sang surya mendekap embun
Kemudian menjadikannya butiran intan yang berkilauan
Kini sudah di hidungnya yang mancung
Aku terpesona mendengar kicau kutilang gunung
Yang bersenandung seusai mendung berkabung
Disemak-semak batang kayu abadi dan celah cadas ku hela nafas bebas
Pandanganku menerapas pada bukit-bukit tak berparas
Separuh tubuhnya hancur
Perutnya terburai lebur
Dan segala isinya diperebutkan
Oleh keserakahan dan kesewenangan
Batu gajah meringkuk malu
Setangkai edelweiss jatuh berderai
Patah terkulai
Keduanya bertanya ;
"Apakah kau manusia?"
Mereka menikamku dengan belati tajam"
Memberinya gincu kemerahan"
"Yang tak jua luntur di basuh hujan"
"Apakah kau manusia?"
Lihat kami yang mekar"
"Kau hitung pun tak sukar"
Aku lipat-lipat yang kulihat
Kulekat dalam ingat
Mungkin Tuhan beri rahmat
Bukakan mata yang tertutup rapat
Sepi kian mencekam
Dalam hening kupatri diam
Aku ingin berkaca pada kubangan hujan
Dari semua perlakuan
Yang hanya menambah penderitaan
Selusin batu gajah mengelinding
Aku hancur selaksa pecahan beling
Tangan-tangan batu dilereng curam berusaha meraih teriakku yang semakin tenggelam
Asap-asap belerang semakin garang
Jerit sakit kencang mengerang
Aku hilang suara,hilang bayangan
Di dunia pewayangan yang kusebut khayangan
Bengkulu,30/11/13
Primanata.D
Subscribe to:
Posts (Atom)