"Guru Tarno"
No..
Sembilan bulan lagi kamu keluar nak
dari sekolah merah putih samping bengkel motor bapak
yang gurunya rajin nitip catatan sama ketua kelasmu
lalu pergi entah kemana ujar satpam ragu
No...
Obeng ceper kok g ada ya?
kunci lapan sembilan serasa lupa naronya
tapi sudahlah tak apa nak
besok bapak beli peti biar bisa dikunci
jadi alat bapak g ilang lagi
No...
Barusan bapak nonton tipi nak
kata suara yang keluar itu tarno
anak sd yang maling motor buat bisa ikutan balap liar
loh jadi gurumu kemana no?
loh jadi obeng ceper sama kunci sembilan sepuluh sama kamu to!
itu barang bukti masuk tipi no
No...
Keluar penjara mau jadi apa kamu nak?
No..no..
gurumu kemana no...??!
12/10/2013
@primanata
Kumpulan Karya Sastra Primanata Dian Isa
Monday, October 12, 2015 -
Puisi sosial,
Sajak sosial
0
komentar
Puisi sosial,
Sajak sosial
0
komentar
Puisi sosial - Guru Tarno
Puisi hari sumpah pemuda - Gerimis Oktober
"Gerimis Oktober"
Air mata itu gerimis,
ia menangis sejak senja kehilangan jingga
Siluet itu awan kelabu,
ia berteriak,dan teriaknya adalah gemuruh guruh
ia menangis sejak senja kehilangan jingga
Siluet itu awan kelabu,
ia berteriak,dan teriaknya adalah gemuruh guruh
Ciumlah tanah sekarat di bumi ini wahai hujan,
dari matamu yang merah di langit
Dan dari setiap butir air mata itu,
adalah berkah yang tak pernah ku duga
dari matamu yang merah di langit
Dan dari setiap butir air mata itu,
adalah berkah yang tak pernah ku duga
Air mata oktober menghapus debu,
tumbuhkan seribu jenis rumput
Seribu rupa perdu liar,
serta ribuan ilalang kan tinggi menjulang
tumbuhkan seribu jenis rumput
Seribu rupa perdu liar,
serta ribuan ilalang kan tinggi menjulang
Memang... tapi kurasa beda,
sebab aku kehilangan sawah
kebun tebu,dan semua palawija,
Bahkan emas harta simpanan ibu pertiwi
sebab aku kehilangan sawah
kebun tebu,dan semua palawija,
Bahkan emas harta simpanan ibu pertiwi
Menangislah oktober...
kita kenang kisah usang para pemuda dengan sumpahnya
Yang berjanji bertanah air satu,
tanah air indonesia
kita kenang kisah usang para pemuda dengan sumpahnya
Yang berjanji bertanah air satu,
tanah air indonesia
12 Oktober 2013
Oleh : Primanata D.
Oleh : Primanata D.
Friday, October 9, 2015 -
Puisi sosial,
Puisi tanah air,
Puisi untuk Jambi,
Sajak sosial
0
komentar
Puisi sosial,
Puisi tanah air,
Puisi untuk Jambi,
Sajak sosial
0
komentar
Puisi untuk Jambi
Jambi pada Oktober2015
Kami adalah perisai di langit Jambi
Menolak burung-burung raksasa menyentuh bumi Batanghari
Kami adalah ibunya Kelambu
Yang diakui oleh api dan abu
Menolak burung-burung raksasa menyentuh bumi Batanghari
Kami adalah ibunya Kelambu
Yang diakui oleh api dan abu
Kami terperangkap dan terjebak
Tersesat diantara nafas manusia yang sesak
Kami adalah korban pemerkosaan
Dari mereka penguasa lahan
Tersesat diantara nafas manusia yang sesak
Kami adalah korban pemerkosaan
Dari mereka penguasa lahan
Kami kabarkan mereka yang bebal
Dengan muka yang makin tebal
Entah apa mereka sudah buta?
Menilai bumi tua masih balita ?
Dengan muka yang makin tebal
Entah apa mereka sudah buta?
Menilai bumi tua masih balita ?
Kami kunjungi langit ketujuh
Memohon agar rintik air jatuh
Dan kepada angin musim kedua kami berpinta
Jauhkanlah Jambi dari air mata
Memohon agar rintik air jatuh
Dan kepada angin musim kedua kami berpinta
Jauhkanlah Jambi dari air mata
Wahai Kumolonimbus !
Murkalah di tubuh kami yang menghangus !
Murkalah di tubuh kami yang menghangus !
Jambi.08/10/2015
@Primanata D.
@Primanata D.
Monday, October 5, 2015 -
Puisi rindu,
Puisi sosial,
Puisi tanah air,
Sajak sosial
0
komentar
Puisi rindu,
Puisi sosial,
Puisi tanah air,
Sajak sosial
0
komentar
Puisi di musim kemarau 2015
LUMUT DALAM GENTONG
"Kapan kami dikeluarkan ?"
"Disini begitu panas"
"Ini seperti di Alcatraz tuan"
"Disini begitu panas"
"Ini seperti di Alcatraz tuan"
"Kapan kami dapat bebas ?"
"Disini begitu hampa"
"Ini adalah Bangker anti rudal tuan"
"Disini begitu hampa"
"Ini adalah Bangker anti rudal tuan"
"Kapan kami dapat dengar lagi?"
"Bayolan para kodok"
"Hentakan kaki hujan"
"Cekikikan daun dan ranting"
"Gelak angin"
"Riuh guntur"
"Dan kilat yang sibuk memotret-motret bumi"
"Bayolan para kodok"
"Hentakan kaki hujan"
"Cekikikan daun dan ranting"
"Gelak angin"
"Riuh guntur"
"Dan kilat yang sibuk memotret-motret bumi"
"Kapan tuan ?"
"Kapan?"
"Kapan?"
"Kapan kami dapat dengar lagi?"
"Sawah tergenang,sungai meluap"
"Jalan menyungai,sungai menyeringai"
"Dan kalimat dari tuan" :
"BOR..."
"Sawah tergenang,sungai meluap"
"Jalan menyungai,sungai menyeringai"
"Dan kalimat dari tuan" :
"BOR..."
"Kapan kami dapat dengar lagi?"
"Ilalang menari,bunga liar bersemi"
"Belukar dan burung-burung bernyanyi"
"Hujan kalahkan api"
"Ilalang menari,bunga liar bersemi"
"Belukar dan burung-burung bernyanyi"
"Hujan kalahkan api"
"Kapan kami dapat dengar lagi?"
"Tinggi air di waduk meningkat"
"Pintu air dibuka"
"Atau"
"Eksploitasi batu dan pasir"
"Penebangan hutan lindung"
"Tinggi air di waduk meningkat"
"Pintu air dibuka"
"Atau"
"Eksploitasi batu dan pasir"
"Penebangan hutan lindung"
"Kapan kami dapat dengar lagi..."
"Desing jetpump dan kejaran buih"
"Desing jetpump dan kejaran buih"
Bengkulu,06/10/15
@Primanata D.
@Primanata D.
Apakah jati diri itu ?
JATI DIRI.
Takdir yang diberikan pencipta
Cita-cita, mimpi ketika bayi
Perangai sebenar-benarnya perangai
Ciri asli tanpa jiplakan
Cita-cita, mimpi ketika bayi
Perangai sebenar-benarnya perangai
Ciri asli tanpa jiplakan
Busuk bisa busuk
Wangi bisa wangi
Busuk ke wangi bisa jadi
Wangi ke busuk tersesat di lokalisasi
Bisa jadi
Wangi bisa wangi
Busuk ke wangi bisa jadi
Wangi ke busuk tersesat di lokalisasi
Bisa jadi
Takut adalah pesan
Berani timbul tanya :
"Siapa aku?"...cari !
Berani timbul tanya :
"Siapa aku?"...cari !
Bengkulu,06/10/15
Primanata Dianisa
Primanata Dianisa
Thursday, October 1, 2015 -
Puisi cinta,
Puisi ibu,
Puisi sosial,
Puisi untuk Kota Batam,
Sajak sosial
0
komentar
Puisi cinta,
Puisi ibu,
Puisi sosial,
Puisi untuk Kota Batam,
Sajak sosial
0
komentar
POTRET JODOH
POTRET JODOH
Ibu pulanglah..
Anakmu tiada yang jaga
Ia sendiri di kamar itu
Lelap dengan mimpi jadi lelaki sejati
Ibu pulanglah
Waktu nak subuh pula
Bukan hangat yang kan membalut
Namun dingin makin menggulut
Ibu pulanglah bu..
Sebelum tabuh berbunyi
Tubuhmu tutupi
Anakmu tiada yang jaga
Ia sendiri di kamar itu
Lelap dengan mimpi jadi lelaki sejati
Ibu pulanglah
Waktu nak subuh pula
Bukan hangat yang kan membalut
Namun dingin makin menggulut
Ibu pulanglah bu..
Sebelum tabuh berbunyi
Tubuhmu tutupi
BATAM,20/09/2015
Primanata Dianisa
Puisi Religi Rekaman Akhir
REKAMAN AKHIR
Jika kelak tiba masanya di kejadian
Di sekeliling kita kan berselimut kengerian
Maka jangan kita mundur kawan
Mari kita lepas semua geram yang tertawan
Tuhan pasti sudah merekam
Ketika di kegelapan kita pernah ditikam
Di sekeliling kita kan berselimut kengerian
Maka jangan kita mundur kawan
Mari kita lepas semua geram yang tertawan
Tuhan pasti sudah merekam
Ketika di kegelapan kita pernah ditikam
Yah benarmu dulu yang ditenggelamkan
Hak-hak yang dirampas oleh ketamakan
Segala tipu daya kala kau tak berdaya
Semua yang sudah menganiaya
Tuhan pasti sudah merekam
Ketika di kegelapan kita pernah ditikam
Hak-hak yang dirampas oleh ketamakan
Segala tipu daya kala kau tak berdaya
Semua yang sudah menganiaya
Tuhan pasti sudah merekam
Ketika di kegelapan kita pernah ditikam
Jika kelak tiba masanya di kejadian
Kau tak akan sendirian
Ada aku kawan...
Maka jangan kau mundur walau sekilan
Sebab Tuhan sudah merekam
Segala dosa yang lama mendekam
Kau tak akan sendirian
Ada aku kawan...
Maka jangan kau mundur walau sekilan
Sebab Tuhan sudah merekam
Segala dosa yang lama mendekam
Bengkulu,01/10/2015
@Primanata D.
@Primanata D.
Subscribe to:
Posts (Atom)